Cegah Risiko Kebutaan, KOMATDA dan Dinkes Probolinggo Dorong Desa Alasnyiur Jadi Desa Sehat Mata

Jumat, 4 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ket Foto: Kepala Puskesmas Bago, drg. Kimawaty Any Marsudi, bersama jajaran mengikuti advokasi Program Desa Sehat Mata Tahun 2026 di Desa Alasnyiur, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Kamis (3/9/2026). Program ini mendorong deteksi dini gangguan penglihatan dan pencegahan kebutaan di masyarakat.

Ket Foto: Kepala Puskesmas Bago, drg. Kimawaty Any Marsudi, bersama jajaran mengikuti advokasi Program Desa Sehat Mata Tahun 2026 di Desa Alasnyiur, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Kamis (3/9/2026). Program ini mendorong deteksi dini gangguan penglihatan dan pencegahan kebutaan di masyarakat.

PROBOLINGGO – Sebuah gerakan sosial kesehatan baru saja dicanangkan di ujung timur Kabupaten Probolinggo. Komite Mata Daerah (KOMATDA) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo resmi menggelar advokasi Program Desa Sehat Mata Tahun 2026 di Desa Alasnyiur, Kecamatan Besuk, Kamis (3/9/2026).

Langkah ini diambil sebagai respons nyata untuk mengikis angka gangguan penglihatan yang sering kali terlambat dideteksi oleh masyarakat rural.Agenda strategis ini dihadiri langsung oleh Kepala Puskesmas Bago, drg. Kimawaty Any Marsudi, beserta jajarannya.

Kehadiran elemen puskesmas ini menjadi motor penggerak utama dalam memperkuat edukasi dan meruntuhkan pengabaian masyarakat terhadap gejala-gejala awal kerusakan mata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan sekadar sosialisasi formal, Program Desa Sehat Mata diinisiasi untuk memetakan sekaligus mengintervensi berbagai gangguan penglihatan krusial seperti katarak, glaukoma, gangguan refraksi, hingga infeksi mata yang kerap luput dari perhatian.

Gangguan-gangguan ini dinilai bak “pencuri penglihatan” senyap yang berpotensi fatal memicu kebutaan jika penanganannya terus ditunda.Melalui advokasi ini, Komatda dan Dinkes mendorong lahirnya kolaborasi multi-sektor di akar rumput.

Pemerintah desa, kader posyandu, institusi sekolah, hingga lingkungan keluarga dituntut melebur menjadi satu kekuatan preventif.

Kepala Puskesmas Bago, drg. Kimawaty Any Marsudi, menegaskan bahwa ego sektoral harus disingkirkan dalam urusan kesehatan publik. Efektivitas menjaga indra penglihatan masyarakat hanya bisa dicapai lewat kerja bersama yang persisten.

“Menjaga kesehatan mata merupakan tanggung jawab bersama. Puskesmas, pemerintah desa, kader, keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran masing-masing untuk meningkatkan kesadaran serta membantu menemukan gangguan mata sejak dini,” tegas drg. Kimawaty.

Menariknya, program ini dirancang konkret dari hulu ke hilir. Tidak berhenti pada lembaran brosur edukasi, rangkaian kegiatan langsung menyentuh aspek klinis, mulai dari skrining kesehatan mata massal, rujukan kasus, fasilitasi operasi katarak dan glaukoma, hingga penempaan kader lokal melalui pembentukan wadah khusus bertajuk “Duta Sehat Mata”.

“Sasaran program mencakup seluruh masyarakat Desa Alasnyiur. Namun, perhatian khusus kami arahkan kepada warga berusia di atas 40 tahun, anak-anak usia sekolah, penderita diabetes melitus, serta para pekerja yang memiliki faktor risiko tinggi terhadap gangguan mata,” urai drg. Kimawaty lebih lanjut.

Arsitektur gerakan ini bertumpu pada militansi kader Posyandu, guru, penggerak PKK, tokoh agama, hingga pemuda Karang Taruna. Dengan dibentuknya Duta Sehat Mata di setiap Rukun Tetangga (RT), rantai birokrasi informasi kesehatan dipotong agar warga bisa mendeteksi tanda awal gangguan mata secara mandiri di rumah mereka sendiri.

“Para kader ini yang nantinya menjadi ujung tombak. Merekalah yang akan mengetuk pintu rumah warga, mendorong mereka melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan begitu ditemukan keluhan atau kejanggalan pada penglihatan,” tambahnya.

 

Sepanjang tahun 2026, denyut Program Desa Sehat Mata akan digulirkan secara simultan dan berkelanjutan. Balai desa, posyandu, ruang kelas sekolah, hingga kunjungan door-to-door ke rumah warga akan menjadi panggung sinergi bagi Komatda, Dinkes, Puskesmas Bago, dan masyarakat Alasnyiur.

“Dengan demikian, upaya pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan dapat dilakukan sejak dini. Desa Sehat Mata diharapkan tidak sekadar menjadi program kesehatan musiman, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas,” pungkasnya optimis.

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Cak Fauzi Ingatkan Warga Sumenep, Jangan Bakar Daun Kering dan Lahan Sembarangan
Panic Buying Dipicu Medsos, Satgas Gabungan Kota Probolinggo Sisir SPBU Redam Antrean BBM
Strategi Udara dari Jalur Bebas Hambatan: Mengintip Uji Landing F-16 di Tol Paspro
Kepincut Aplikasi SiDesa-SAE, Inspektorat Kabupaten Blitar Berguru Inovasi ke Probolinggo
Pemkot Blitar Siapkan Rp567 Juta, 900 Buruh Pabrik Rokok Bakal Terima BLT
Bupati Sumenep Tantang Santri Jadi Pengusaha, Bukan Sekadar Pencari Kerja
Pimpin Apel Hari Santri 2026, Bupati Sumenep Tekankan Pentingnya Ilmu dan Akhlak
Satu Formasi Komut PT Sumekar Dibuka Pemkab Sumenep, Simak Syaratnya

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:42 WIB

Cak Fauzi Ingatkan Warga Sumenep, Jangan Bakar Daun Kering dan Lahan Sembarangan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:58 WIB

Panic Buying Dipicu Medsos, Satgas Gabungan Kota Probolinggo Sisir SPBU Redam Antrean BBM

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Strategi Udara dari Jalur Bebas Hambatan: Mengintip Uji Landing F-16 di Tol Paspro

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Kepincut Aplikasi SiDesa-SAE, Inspektorat Kabupaten Blitar Berguru Inovasi ke Probolinggo

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Pemkot Blitar Siapkan Rp567 Juta, 900 Buruh Pabrik Rokok Bakal Terima BLT

Berita Terbaru