Blitar – Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Blitar, Dr. Ir. Jumadi, M.MT, menghadiri acara tanam perdana biji jagung di Kelurahan Srengat pada Jumat, (15/11/2024).
Acara ini merupakan langkah awal dalam memperkuat program ketahanan pangan di Kabupaten Blitar, yang dihadiri oleh Kapolres Blitar Kota, Dandim 0808/Blitar, pejabat pemerintah daerah, Camat Srengat, anggota Forkopimcam, serta Lurah Srengat beserta jajarannya.
Dalam sambutannya, Pjs. Bupati Blitar menekankan pentingnya kerjasama untuk mencapai keberhasilan program ketahanan pangan. “Kita memulai upaya ini di Srengat, dan harapan kita semua adalah agar program ini sukses demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jumadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara tanam perdana ini menjadi simbol komitmen bersama dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayah Blitar, dengan harapan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
Kabupaten Blitar, yang merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional, memiliki potensi besar di sektor pertanian. Pada tahun 2023, lahan pertanian di Kabupaten Blitar mencapai 117.278 hektare dengan produksi padi sebesar 375.490 ton per tahun. Selain itu, produksi sayuran dan buah semusim tercatat sebanyak 816.271 kwintal, sementara hasil tanaman buah-buahan mencapai 2.250.876 kwintal per tahun. Produksi cabai rawit khususnya mencapai 441.841 kwintal per tahun.
Jumadi juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah mereka dengan tanaman produktif.
“Lahan pekarangan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menambah pendapatan rumah tangga,” ujarnya.
“Kita mendukung penuh arahan Presiden untuk swasembada pangan. Ini adalah bukti komitmen kita bersama, agar Kabupaten Blitar terus menjadi daerah yang mencukupi kebutuhan sandang pangan masyarakat,” kata Jumadi.
Menurutnya, langkah ini penting untuk meningkatkan ketahanan pangan di daerah, sekaligus mendukung kesejahteraan petani lokal.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menyediakan fasilitas dan program yang memadai, baik dalam hal pelatihan, peralatan pertanian, maupun akses kepasar, agar petani dapat mengoptimalkan hasil pertanian mereka. Selain itu, upaya ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor pangan dan memperkuat perekonomian daerah.(Adv/Kmf)
Penulis : Basuki







