Sumenep, Detikzone.id- Tingkah menyebalkan Karyawan SPBU Pemda dibawah naungan PT. Wira Usaha Sumekar (WUS) di Jalan Arya Wiraraja desa Gedungan, Batuan, Sumenep yang menyuruh mengisi mobil berbahan bakar bensin diganti dengan Solar pada saat mobil yang dikendarai wartawan (IM) kehabisan bahan bakar dinilai tak berperikemanusiaan dan kurang ajar.
“Kalau benar petugas SPBU arogan dan tak ramah seperti itu, maka sudah bisa dikategorikan sebagai manusia yang tak berperikemanusiaan dan kurang ajar,” ujar Wapimred Detikzone.id, Ahmadi Neja.
Dosen Unitomo ini sangat menyayangkan jika SPBU dibawah naungan PT. WUS bersikap demikian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pecat,” tegasnya.
Peristiwa itu terjadi, Minggu, 26/01/2025, malam, saat mobil yang dikendarai wartawan kehabisan bensin di areal SPBU.
Dengan sikap ramah seraya menyerahkan fulus Rp 100 ribu, wartawan meminta tolong agar dibantu untuk diisikan BBM jenis pertalite.

Sadar tidak punya barcode, wartawan meminta solusi kepada 2 petugas agar mobil yang dikendarainya dapat diisi pertalite.
Tidak memberikan arahan dan petunjuk yang jelas, petugas SPBU yang bertugas menunjukkan sikap tak ramah sembari menyampaikan dirinya tak punya barcode.
“Saya tak punya barcode. Kalau mau diisi solar ada,” ujar petugas.
Mendengar hal itu, wartawan yang pada saat itu bersama keluarganya tetap meminta solusi. Namun, petugas satu dan petugas lainnya terkesan apatis dan judes.
“Minta tolong ke temannya suruh kirim barcode,” kata petugas di SPBU milik PT. Wus.
Tak menemukan solusi saat mobilnya mogok di SPBU, si wartawan tersulut amarah.
Tak berselang lama, petugas yang sebelumya judes tiba- tiba melakukan pengisian Pertalite.
“Saporana, nika’ pon bedhe. Minta maaf, ini sudah ada,” tukasnya.
Berkenan dengan itu, Manajer SPBU dibawah naungan PT. WUS, Rofik mengatakan, kemungkinan operator baru.
“Kemungkinan operator yang baru jaga mas. Jadi gak tahu sama sampean,” terangnya.
Disisi lain, Rofik tidak dapat mengklarifikasi terkait SPBU yang dipimpinnya yang diduga menjadi sarang kulakan para mafia BBM yang hanya bermodalkan secarik kertas bernama Rekom. Padahal untuk diperjual belikan kembali hingga lintas kepulauan.
Sementara itu, pantauan di lapangan, SPBU yang kerapkali bermasalah lantaran diduga menjadi sarang kulakan mafia BBM bersubsidi dengan menggunakan jerigen plastik ini sudah tidak melayani pengisian Solar lantaran habis. Padahal jam menunjukkan pukul 21.00 wib.
Kuat dugaan, solar -solar tersebut akan diperuntukkan kepada tengkulak BBM yang disinyalir sudah melakukan konspirasi dengan oknum SPBU.
Kasus ini harus menjadi perhatian khusus Mabes Polri, Polda Jatim hingga Polres Sumenep untuk melakukan langkah nyata dalam rangka memberantas bisnis haram BBM ilegal di Sumenep yang sangat menyengsarakan rakyat.
Penulis : Redaksi







