Kediri, Detikzone — Tenun ikat, salah satu kekayaan budaya nusantara, memiliki kisah panjang yang menarik. Masuk ke wilayah ini sekitar tahun 1950-an, tenun ikat mulai dikenal masyarakat setelah dibawa oleh para pedagang Tiongkok dan Arab.
Adalah Arif Rahmatullah, kini menjadi pemilik gerai tenun ikat ‘Cap Medali Mas’ Kediri, berlokasi di Jl. KH Agus Salim No. 51 Bandar Kidul, Kota Kediri, sekaligus salah satu tokoh yang ikut andil dalam perjalanan awal ini, yang kala itu bekerja bersama para pedagang tersebut.
“Motivasi utama saya terjun ke dunia tenun adalah karena sudah memahami alur produksi dan sistem pemasaran yang berkembang saat itu,” ungkap Pak Arif, begitu ia kerap disapa, kepada jurnalis Detikzone Jumat (25/4/2025) siang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikatakannya, kini proses produksi tenun ikat di tempat ini dikerjakan oleh sekitar 60 orang pegawai terlatih. Mereka menggunakan benang khusus yang diimpor langsung dari India.
“Proses pembuatan kain tenun ini kami lakukan secara manual, melewati setidaknya sepuluh tahapan: mulai dari pencucian benang, pemintalan, proses rek (memasukkan benang ke media cetak tenun), pembuatan dan pengikatan motif, pencelupan warna, pelepasan ikatan benang, pemberian warna kombinasi, penguraian benang, hingga penenunan akhir,” terang dia.
Untuk menyelesaikan satu lembar kain ukuran 95 cm x 250 cm, dibutuhkan waktu sekitar enam jam. Kualitas tetap menjadi prioritas utama, dan semua pekerja telah melalui pelatihan khusus untuk menjaga mutu produk.
Strategi pemasaran pun dikembangkan dengan menyesuaikan zaman. Selain melalui media sosial, mereka juga menggandeng berbagai dinas pemerintah seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata.
“Produk tenun ikat ini rutin dipamerkan dalam berbagai event yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag),” tambahnya.
Namun, tantangan tetap ada. Banyak produsen lain yang tidak menjaga kualitas dan harga tenun, sehingga menciptakan ketidakstabilan pasar. Untuk menghadapi hal ini, produsen tenun ikat ini terus menjaga mutu serta menghadirkan inovasi motif terbaru demi mempertahankan kekhasan produk mereka.
“Kita optimis dapat terus bertahan karena percaya bahwa produk handmade seperti tenun ikat ‘Cap Medali Mas’ memiliki nilai seni yang tidak bisa ditiru oleh mesin modern,” ungkapnya.
Harapannya, ke depan, peran serta pemerintah dan instansi terkait bisa lebih aktif dalam mendukung keberlangsungan tenun ikat, melalui promosi, pelatihan, maupun event-event yang mendukung eksistensinya.
Sebagai penutup, tenun ikat adalah warisan budaya yang harus tetap dilestarikan. Perlu koordinasi yang erat antara para pelaku industri tenun dan pihak-pihak terkait, agar warisan ini tidak hanya tetap hidup, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas lagi di masa depan.
____________
Penulis: Yudi Ali Ashar
Editor: Bimo Gunawan







