KEDIRI DETIKZONE – Tindakan tak pantas kembali mencoreng wajah penegak hukum. Di tengah upaya gencarnya Polri memperkuat citra sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, justru muncul kabar tidak sedap: Bayu, seorang warga Kota Kediri diduga menjadi korban pemukulan oleh oknum anggota polisi.
Peristiwa itu sontak menimbulkan tanda tanya besar — mengapa di era keterbukaan dan reformasi seperti sekarang, masih ada aparat kepolisian yang main pukul terhadap warga sipil?
Malam ini, Minggu (12/10/2025), Himpunan Pemuda Kediri (HIPERI) turun tangan mendampingi korban untuk mencari keadilan. Mereka mendatangi Mapolresta Kediri dan secara resmi melaporkan dugaan tindak kekerasan itu ke Divisi Propam Polres Kediri Kota.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Hiperi, Aan Wina Armada, menuturkan bahwa kejadian bermula saat kliennya sedang menonton gelaran seni budaya jaranan di Kelurahan Jagalan, Kota Kediri. Suasana yang semula penuh hiburan tiba-tiba berubah menjadi tegang, hingga terjadi insiden pemukulan oleh seorang oknum polisi Bhabinkamtibmas kelurahan Jagalan berpangkat Aiptu inisial SAE.
“Korban saat itu hanya sedang menikmati tontonan jaranan, tiba-tiba ada keributan lalu dia dipukul oleh oknum anggota polisi itu. Belum diketahui apa alasan dan penyebab pasti terjadinya tindakan itu. Tapi yang jelas, ini sudah tidak pantas dan melanggar etika aparat penegak hukum polri,” tegas Aan kepada jurnalis media detikzone.
Menurut Aan, setelah kejadian itu, ia bergegas membawa korban ke bagian Paminal (Pengamanan Internal) Polres Kediri Kota untuk melaporkan kejadian tersebut.
Kata dia, korban sudah dimintai keterangan dan laporan diterima, sebelumnya korban diarahkan untuk menjalani visum di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri.
“Langkah kami malam ini adalah memastikan korban mendapat perlindungan dan pemeriksaan medis resmi. Kami juga menyerahkan sejumlah bukti berupa foto dan video pascakejadian kepada pihak Propam untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.
Aan menambahkan, Hiperi akan terus mengawali kasus ini hingga tuntas.
“Kami tidak ingin kasus seperti ini tenggelam tanpa kejelasan. Polisi sebagai aparat penegak hukum seharusnya menjadi contoh, bukan justru menakut-nakuti masyarakat. Bila benar ada pelanggaran, kami mendesak agar Propam bertindak tegas sesuai prosedur,” katanya dengan nada tegas.
Istri korban yang ada di lokasi kejadian tersebut juga sempat merasa geram. Ia menyaksikan kejadian itu sebagai bukti bahwa peristiwa pemukulan area wajah suaminya tersebut benar-benar terjadi di lokasi.
“Saat ada keributan itu saya melihat secara langsung, dan wajahnya (suami -red) dipukul oleh oknum polisi itu, dan meneteskan darah di ujung bibir sebelah kiri,” ungkap Farida.
Untuk diketahui, rekaman video dan foto-foto menjadi bagian dari bahan laporan disimpan oleh mereka dan diserahkan kepada pihak yang berwenang.
Yang lebih mengejutkan, kata Bayu, setelah dipukul, ia sempat mengkonfirmasi langsung kepada oknum polisi tersebut.
“Saya spontan langsung bertanya, ‘Kenapa saya dipukul, Pak?’ Namun oknum itu malah terlihat acuh tak acuh dan hanya menjawab seolah menantang, ‘Silakan lanjutkan, Mas’,” tutur Bayu menirukan ucapan oknum polisi.
Dikatakannya, kasus ini menjadi ujian serius bagi institusi Polri di tingkat daerah, khususnya Polres Kediri Kota, untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap prinsip “Presisi” – prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan.
Bagi mereka, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perilaku oknum aparat yang arogan, sekecil apa pun, dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.
Kini korban bersama Hiperi menantikan langkah nyata dari Propam Polres Kediri Kota — apakah laporan ini akan benar-benar ditangani secara transparan dan berkeadilan, atau sekedar menjadi catatan kasus yang hilang ditelan waktu.
Satu pertanyaan pun menggantung di benak mereka: Mengapa masih ada oknum polisi yang tega memukul rakyat yang seharusnya mereka lindungi?
Penulis : Bimo
Editor : Redaksi








