KEDIRI – Suasana damai menyelimuti ruang pengaduan masyarakat (Dumas Presisi) Propam Polres Kediri Kota, Selasa (14/10/2025) malam.
Dua pihak yang sempat terlibat perseteruan di acara kesenian jaranan antara Bayu, seorang warga dengan Aipda Soni Andiyan Effendi, anggota Bhabinkamtibmas kelurahan Jagalan, resmi berdamai dan saling memaafkan.
Proses perdamaian berlangsung secara terbuka, disaksikan oleh pejabat Propam Polres Kediri Kota, Jajaran Polsek Kota, Ketua Hiperi serta perwakilan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua belah pihak sepakat bahwa kejadian yang sempat memicu reaksi masyarakat dan netizen di dunia maya tersebut diakui hanyalah sebuah kesalahpahaman yang terjadi di tengah situasi ricuh.
Kronologi Kejadian
Peristiwa itu bermula pada Minggu sore, 11 Oktober 2025, saat pagelaran budaya kesenian jaranan yang digelar di Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kota Kediri.
Acara yang awalnya berlangsung meriah tiba-tiba berubah ricuh ketika salah satu barongan seketika menyeruduk barisan penonton. Sejumlah penonton yang terprovokasi kemudian memukuli pemain barongan hingga pagar pembatas roboh.
Dalam situasi chaos tersebut, Bayu mencoba melerai penonton agar keributan tidak semakin meluas. Namun di tengah suasana kacau, terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pemukulan oleh anggota polisi Aipda Soni Andiyan Effendi, yang saat itu tengah bertugas pengamanan acara.
Pasca insiden, Bayu sempat melapor dan diterima oleh Propam Polres Kediri Kota didampingi Ketua Hiperi untuk meminta keadilan atas tindak kekerasan yang dialaminya.
Namun setelah melalui proses mediasi dan komunikasi yang difasilitasi oleh pihak kepolisian, Bayu resmi mencabut laporan tersebut sebagai bentuk itikad baik dan demi menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dengan aparat penegak hukum.
Kedua Pihak Sepakat Saling Memahami
Dalam pertemuan perdamaian, suasana kekeluargaan terasa kental. Bayu menyampaikan bahwa dirinya telah menerima permohonan maaf dari Aipda Soni dan berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bersama.
“Saya sudah memaafkan sepenuhnya. Semua ini hanya kesalahpahaman di tengah situasi tak terkendali. Saya tidak ingin memperpanjang masalah karena saya percaya yang penting adalah saling memahami dan menjaga kebersamaan sebagai bentuk kami cinta institusi Polri,” ujar Bayu usai pertemuan.
Sementara itu, Aipda Soni Andiyan Effendi menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dengan penuh kesadarannya.
“Sebenarnya saya sudah berusaha meminta maaf ke Bayu saat di lokasi kejadian, namun karena kondisi sangat ramai dan tidak terkendali, mungkin tidak tersampaikan dengan jelas. Saya mohon maaf dengan tulus ikhlas dan tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti masyarakat. Semua terjadi spontan karena kondisi di lokasi yang ricuh,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tugas utama aparat adalah melindungi dan mengayomi masyarakat.
“Saya berkomitmen untuk lebih berhati-hati dan profesional dalam menjalankan tugas di lapangan. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya pribadi dan rekan-rekan lainnya agar lebih humanis dalam bertugas,” imbuhnya.
Sikap Ketua Himpunan Pemuda Kediri
Ketua Hiperi, Aan Wina Armada, yang turut hadir dalam proses perdamaian, menyampaikan penghargaan kepada kedua belah pihak atas kedewasaan mereka dalam menyelesaikan masalah melalui jalur musyawarah.
“Kami menghormati keputusan damai ini. Intinya, kedua belah pihak sama-sama menyadari bahwa kejadian tersebut tidak disengaja. Hiperi tulus karena sayang terhadap institusi Polri, terus mendorong pendekatan kedua belah pihak secara persuasif dan kekeluargaan dalam penyelesaian konflik, dengan tidak mengabaikan aspek hukum dan etika profesi,” ujarnya.
Pihaknya juga berterimakasih kepada Propam Polres Kediri kota tetap menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan internal agar setiap anggota Polri menjaga profesionalitas, etika, serta kedekatan dengan masyarakat.
Harapan Besar Bersama
Dengan tercapainya kesepakatan damai ini, masyarakat diharapkan dapat mengambil hikmah penting bahwa kerukunan dan komunikasi yang baik lebih berharga daripada memperpanjang konflik.
Kesenian seperti jaranan, yang merupakan bagian dari budaya dan kebanggaan masyarakat Kediri, hendaknya tetap dijaga sebagai sarana hiburan dan pelestarian nilai-nilai tradisi, bukan menjadi pemicu keributan.
Perdamaian antara Bayu dan Aipda Soni menjadi contoh nyata bahwa penyelesaian masalah secara bijak dan kekeluargaan dapat mengembalikan suasana kondusif di tengah masyarakat.








