PAMEKASAN, Minggu, 12/4/2026 – Kediaman pengusaha tembakau Haji HER di Pamekasan berubah menjadi lautan manusia. Ribuan petani, ulama, dan masyarakat dari berbagai penjuru Madura berdatangan secara bergelombang sejak pagi hari, hingga membuat kawasan sekitar lokasi dipadati massa.
Jalan utama menuju kediaman tampak padat merayap. Kendaraan roda dua dan empat dari berbagai daerah seperti Sumenep, Pamekasan, Sampang, hingga Bangkalan terus mengalir tanpa henti, membawa masyarakat yang datang dengan satu tujuan, yaitu memberikan dukungan langsung.
Pantauan di lapangan menunjukkan arus massa terus berdatangan sejak pagi. Kondisi jalan sempat tersendat akibat tingginya mobilitas kendaraan dari berbagai wilayah di Madura.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kerumunan tersebut, dukungan terhadap Haji HER kembali menguat. Sosoknya dipandang sebagai bagian dari gerakan ekonomi berbasis pesantren dan petani tembakau yang berkembang sejak 2022, ketika ia bersama jaringan yang melibatkan ratusan pesantren disebut menginisiasi pembelian langsung tembakau dari petani untuk menstabilkan harga.
Program tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan ekonomi yang melibatkan sekitar 330 pondok pesantren dengan perputaran dana yang dilaporkan mencapai miliaran rupiah.
Pergerakan ini disebut memberi dampak pada ekonomi keluarga petani, termasuk peningkatan kemampuan untuk memperbaiki rumah, membiayai pendidikan anak, serta mengembangkan usaha kecil di desa.
Gelombang dukungan juga menguat setelah Haji HER hadir dalam proses klarifikasi di Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia.
Di tengah situasi tersebut, solidaritas masyarakat di berbagai wilayah Madura terus mengalir dan semakin terorganisir.
Fenomena di Pamekasan ini memperlihatkan konsolidasi sosial yang kuat antara petani, ulama, dan masyarakat akar rumput.
Dukungan yang muncul tidak hanya berlangsung di satu wilayah, tetapi juga terhubung dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, hingga Bangkalan.
Koordinator ratusan petani dari Sumenep menyebutkan bahwa kedatangan massa merupakan bentuk solidaritas yang telah terbangun sejak lama di tingkat akar rumput.
Ia menegaskan bahwa para petani datang secara sukarela sebagai wujud dukungan atas perubahan ekonomi yang dirasakan langsung di lapangan.
“Ini gerakan hati masyarakat. Banyak petani merasakan perubahan ekonomi, sehingga dukungan ini muncul secara alami dari bawah,” ujarnya.
Hingga siang hari, kediaman Haji HER masih dipadati massa yang terus berdatangan, menjadikan lokasi tersebut sebagai pusat konsentrasi dukungan terbesar di Madura.
Penulis : Redaksi







