Mafia Pesisir Camplong: Oknum Kades Diduga Dalangi Jual-Beli Tanah Reklamasi, Pemkab Sampang Bungkam

Sabtu, 16 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPANG, Detikzone.id – Mafia pesisir di Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, kian merajalela. Lahan pantai yang seharusnya menjadi zona perlindungan ekosistem, berubah menjadi “tanah dagangan” hasil reklamasi liar. Ironisnya, praktik ini diduga melibatkan oknum Kepala Desa dan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah daerah.

Praktik perampasan ruang publik ini berlangsung bertahun-tahun di desa-desa pesisir seperti Dharma Tanjung, Sejati, Dharma Camplong, Tambaan, Banjar Talelah, hingga Taddan. Skemanya sederhana: lahan pesisir ditimbun sirtu, lalu dijual bebas untuk bangunan rumah maupun usaha.

Lebih parah, sebagian kawasan dijadikan tambang galian C ilegal. Pasir hasil kerukan dijual komersial tanpa izin resmi. Dampaknya mengerikan: hutan bakau mati, terumbu karang hancur, arus laut rusak, nelayan kehilangan sumber penghidupan, dan abrasi terus menggerus garis pantai Camplong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerusakan ekologis ini nyata di depan mata. Namun, Pemerintah Kabupaten Sampang memilih bungkam. Tidak ada langkah penertiban, tidak ada pemulihan. Padahal, praktik tersebut jelas-jelas melanggar UU Nomor 27 Tahun 2007 jo. UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Ketua Barisan Pemuda Peduli Desa, Agung Pratama Deny Logito, menuding ada pembiaran sistematis.

“Ini bukan sekadar pelanggaran, tapi perampokan ruang hidup rakyat. Tanah reklamasi itu untuk konservasi, bukan untuk diperdagangkan atau ditambang ilegal. Pemkab Sampang jangan pura-pura buta,” tegas Agung.

Ia menegaskan, pihaknya siap menyeret kasus ini ke KLHK, KKP, hingga aparat penegak hukum pusat jika praktik mafia pesisir ini tidak segera dihentikan.

“Kalau terus dibiarkan, Camplong akan kehilangan garis pantainya, ekosistem laut hancur, dan nelayan akan bangkrut massal. Ini bencana ekologis sekaligus sosial,” tandasnya

Penulis : Anam

Berita Terkait

Sakit Hati Usai Bercerai, Pria di Kediri Nekat Bakar Rumah dan Kendaraan Mantan Istri
Sempat Mati Suri karena Pandemi, Bukit Tinggi Sumenep Kini Kembali Diserbu Pengunjung
Menakar Ketegasan Polisi di Pusaran Perjudian Kediri: Komitmen Kamtibmas atau Sekadar Retorika?
LSM PIAR Desak Audit Aset Daerah yang Dijadikan Dapur SPPG, Minta BPPKAD dan BGN Bertindak
Baru Diaspal, Jalan Mawar Indah Probolinggo Sudah Bergelombang, Warga Pertanyakan Kualitas Pengerjaan
Sempat Memanas di WhatsApp dan TikTok, Perselisihan Eks Karyawan dengan Pimpinan Salon di Kediri Berakhir Damai
Dugaan Praktik Perjudian di Ngancar Menantang Taji APH: Warga Tuntut Langkah Nyata
Temukan Jasad Bayi Laki-Laki di Kawasan Hutan Karet Mojo Kediri, Warga Lapor Polisi Minta Pelaku Segera Ditangkap

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:54 WIB

Sakit Hati Usai Bercerai, Pria di Kediri Nekat Bakar Rumah dan Kendaraan Mantan Istri

Senin, 20 Juli 2026 - 19:21 WIB

Sempat Mati Suri karena Pandemi, Bukit Tinggi Sumenep Kini Kembali Diserbu Pengunjung

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:07 WIB

Menakar Ketegasan Polisi di Pusaran Perjudian Kediri: Komitmen Kamtibmas atau Sekadar Retorika?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:03 WIB

LSM PIAR Desak Audit Aset Daerah yang Dijadikan Dapur SPPG, Minta BPPKAD dan BGN Bertindak

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:20 WIB

Baru Diaspal, Jalan Mawar Indah Probolinggo Sudah Bergelombang, Warga Pertanyakan Kualitas Pengerjaan

Berita Terbaru