Skandal Rp 21M Membusuk, Nelayan Madura Kepung SKK Migas Bongkar Dugaan Kongkalikong Petronas dan Pemkab Sampang 

Kamis, 21 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang orator muda berteriak lantang dari atas mobil komando, suaranya memecah suasana. Massa berdesakan di bawah, wajah-wajah mereka penuh kemarahan. “Rp21 miliar bukan angka kecil, itu hak kami!” teriaknya, disambut sorakan membahana

Seorang orator muda berteriak lantang dari atas mobil komando, suaranya memecah suasana. Massa berdesakan di bawah, wajah-wajah mereka penuh kemarahan. “Rp21 miliar bukan angka kecil, itu hak kami!” teriaknya, disambut sorakan membahana

SURABAYA, Detikzone.id – Aksi nelayan Madura meledak jadi amarah massal. Ratusan nelayan dari Persatuan Nelayan Pantura Madura (PNPM) mengepung kantor SKK Migas Jabanusa, Rabu (20/8/2025), menuntut kejelasan pembayaran ganti rugi Rp21,19 miliar yang hingga kini tak kunjung cair.

Dana kompensasi itu seharusnya diberikan akibat rusaknya ratusan rumpon (rumah ikan) nelayan setelah disapu kapal survei seismik milik Petronas Carigali di perairan Hidayah, North Madura II, pada 2024 lalu. Namun, janji tinggal janji.

Nelayan dari Kecamatan Banyuates, Ketapang, dan Sokobanah tumpah ruah dengan spanduk bernada ancaman. Salah satunya menohok: “Petronas Carigali Jangan Khianati Rakyat, Bayar Ganti Rugi atau Angkat Kaki dari Pantura Madura!”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya orasi, mereka juga menggelar doa tahlil di depan kantor SKK Migas – simbol terkuburnya harapan nelayan yang sudah setahun lebih digantung.

Koordinator aksi, Fariz Reza Malik, menuding keras SKK Migas dan Petronas mempermainkan nasib rakyat kecil.

“Nilai ganti rugi sudah disepakati Rp21,19 miliar. Tapi satu rupiah pun belum kami terima. Pertemuan akhir Juli dibatalkan tanpa alasan. SKK Migas dan Petronas jelas mempermainkan nelayan Madura,” tegasnya emosi.

Fariz bahkan mengendus adanya permainan busuk.

“Kenapa Petronas dilarang menemui kami? Jangan-jangan memang ada skandal besar yang sengaja ditutup-tutupi,” tudingnya tajam.

Menurut kesepakatan, ganti rugi itu akan dibagi ke lima kecamatan terdampak:

Banyuates Rp6,35 miliar

Ketapang Rp5,45 miliar

Sokobanah Rp3,99 miliar

Batumarmar Rp3,15 miliar

Pasean Rp2,25 miliar

Namun, setelah dua jam berorasi, jawaban SKK Migas justru menambah bara. Mereka berdalih dana sudah disalurkan ke Pemkab Sampang.

“Kewajiban kami sudah selesai. Dana sudah kami serahkan. Jadi sekarang bola ada di Pemkab, bukan lagi di kami,” kata salah satu perwakilan SKK Migas Jabanusa.

Ironisnya, saat ditanya berapa total dana yang benar-benar diserahkan, pihak SKK Migas menolak buka suara.

“Mohon maaf, saya ada batasan untuk menyampaikan ini,” ujarnya singkat, membuat nelayan makin curiga.

Pernyataan itu menimbulkan tanda tanya besar: benarkah Rp21,19 miliar sudah masuk ke kas Pemkab Sampang, atau masih tersangkut entah di mana?

Nelayan pun bersumpah akan melawan sampai titik darah penghabisan.

“Kalau uang ini terus ditahan, jangan salahkan kami bila Pantura Madura bergolak. Ini bukan sekadar soal ikan, tapi soal harga diri rakyat yang diinjak-injak,” tutup Fariz dengan lantang.

Skandal ganti rugi rumpon senilai Rp21,19 miliar ini jelas bukan perkara sepele. Fakta bahwa nelayan sudah setahun lebih menunggu tanpa kepastian, sementara SKK Migas dan Petronas Carigali saling lempar tanggung jawab, menunjukkan ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi.

Ketika SKK Migas berdalih bahwa dana sudah diserahkan ke Pemkab Sampang, namun menolak membuka detail jumlahnya, publik layak curiga, apakah uang sebesar itu benar-benar sampai, atau justru menguap di jalan?

Jika benar dana miliaran rupiah itu sudah masuk ke Pemkab, mengapa nelayan yang menjadi korban langsung tak juga menerima haknya? Bukankah ini indikasi adanya permainan gelap antara birokrasi dan perusahaan migas yang tega mempermainkan penderitaan rakyat kecil?

Lebih ironis lagi, tahlil akbar yang digelar nelayan di depan kantor SKK Migas bukan hanya simbol duka, tetapi juga tamparan keras terhadap pemerintah yang membiarkan rakyatnya dikhianati oleh kongkalikong migas.

Penulis : Anam

Berita Terkait

Polresta Sumenep Bergerak, Dugaan Persetubuhan Anak Berujung Penahanan
Puluhan Paket Sabu Nyaris 50 Gram Dibongkar Polsek Masalembu, Pria 44 Tahun Diamankan
Lagi-lagi Pelecehan Seksual Anak : Didampingi Yakuza Maneges, Oknum Marbot Masjid Diserahkan ke Polresta Sidoarjo
Motor Petani Raib dari Garasi, Polisi Sumenep Berhasil Amankan Pelaku
Aksi Pencurian Rombong Jagung di Sumenep Terekam CCTV, Pelaku Diciduk di Pamekasan
Satresnarkoba Polresta Sumenep Bongkar Peredaran Sabu 81,53 Gram
Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan 102 Botol Miras dari Dua Lokasi
GP Ansor Rubaru Sumenep Desak Penanganan Serius Dugaan Kekerasan Seksual Anak

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 16:23 WIB

Polresta Sumenep Bergerak, Dugaan Persetubuhan Anak Berujung Penahanan

Senin, 7 September 2026 - 14:42 WIB

Puluhan Paket Sabu Nyaris 50 Gram Dibongkar Polsek Masalembu, Pria 44 Tahun Diamankan

Kamis, 3 September 2026 - 18:31 WIB

Lagi-lagi Pelecehan Seksual Anak : Didampingi Yakuza Maneges, Oknum Marbot Masjid Diserahkan ke Polresta Sidoarjo

Kamis, 3 September 2026 - 12:14 WIB

Motor Petani Raib dari Garasi, Polisi Sumenep Berhasil Amankan Pelaku

Kamis, 3 September 2026 - 11:59 WIB

Aksi Pencurian Rombong Jagung di Sumenep Terekam CCTV, Pelaku Diciduk di Pamekasan

Berita Terbaru

SOSBUD

Tempo Berjudi di Madura 

Sabtu, 12 Sep 2026 - 17:59 WIB