MADURA — Bea Cukai Madura yang dipimpin Novian Dermawan kembali menjadi sorotan tajam publik. Lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemberantasan rokok ilegal justru kembali “dipermalukan” setelah pengungkapan besar rokok tanpa pita cukai di wilayah Madura bukan dilakukan oleh Bea Cukai, melainkan oleh Polres Sampang.
Ironisnya, rokok ilegal yang berhasil dibongkar tersebut ditengarai diproduksi di Kabupaten Pamekasan, wilayah yang secara hukum berada di bawah pengawasan Bea Cukai Madura.
Fakta ini menambah daftar panjang tanda tanya atas kinerja pengawasan yang selama ini digembar-gemborkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Satuan Reserse Kriminal Polres Sampang, Senin malam (22/12/2025), mengamankan empat kendaraan yang disulap sebagai sarana distribusi rokok ilegal dalam operasi penindakan di Jalan Raya Camplong. Salah satunya bahkan berupa bus pariwisata bernomor polisi R-1666-BE yang diubah menjadi gudang berjalan rokok tanpa pita cukai.
Tak hanya itu, tiga kendaraan lain, mobil pick-up P-9293-GD, Wuling Cortez M-1703-GE, dan Honda HRV W-1595-XV—juga kedapatan mengangkut rokok ilegal yang kuat dugaan berasal dari Pamekasan.
Berdasarkan penelusuran Detikzone.id, salah satu merek rokok ilegal yang diamankan adalah BONTE, yang ditengarai dikendalikan oleh kakak beradik berinisial MM dan SPL alias IPNG, beroperasi di Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan.
Namun sayangnya, meski jaringan distribusi berhasil dibongkar, bandar besar rokok ilegal merek BONTE justru kembali lolos dari jerat hukum. Produsen yang menjadi sumber utama peredaran rokok ilegal itu hingga kini tak tersentuh, seolah memiliki “tameng kebal hukum”.
Sebelumnya, Detikzone juga mengungkap bahwa produksi rokok ilegal BONTE semakin terang-terangan. Bahkan, aktivitas produksi mereka dengan berani diunggah ke media sosial TikTok.
Dalam video tersebut terlihat sejumlah pekerja menjaga mesin produksi yang terus beroperasi, lengkap dengan narasi menantang yang menyebut penggunaan “mesin Cina dengan speed jos”.
Situasi ini memantik kritik keras dari berbagai kalangan.
Ahmadi, pemerhati rokok ilegal di Madura, menyebut pembiaran terhadap produsen sebagai akar persoalan yang tak kunjung diselesaikan.
“Selama produsen rokok ilegal tidak disentuh, peredaran rokok ilegal tidak akan pernah berhenti. Yang dikorbankan selalu rakyat kecil, pengangkut, kurir, dan pedagang kecil. Sementara bandarnya terus melenggang bebas menggarong keuntungan dari praktik ilegal,” tegasnya.
Ia menduga, bandar rokok ilegal, termasuk bandar rokok ilegal Bonte yang laris di pasaran sengaja dipelihara Bea Cukai Madura.
“Kalau memang para bandar itu tidak dipelihara saya ingin menguji nyali Bea Cukai Madura, apakah berani membuktikan diri sebagai institusi penegak hukum yang benar-benar hadir melawan mafia rokok ilegal di wilayahnya sendiri atau malah sebaliknya,” tandasnya.
Hingga berita ini terbit, Kepala Bea Cukai Madura, Novian Dermawan belum dapat dikonfirmasi lantaran keterbatasan akses komunikasi.
Penulis : Redaksi








