Ketua ASKONAS Bongkar Dugaan Praktik “Komitmen Fee” dalam Proyek Daerah: Ancaman Serius Tata Kelola APBD

Rabu, 4 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Praktik dugaan “komitmen fee” dalam proyek-proyek pemerintah daerah kembali disorot. Ketua ASKONAS, Taswin Nasution, secara terbuka mengungkap mekanisme tidak sehat yang dinilainya telah mengakar dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di berbagai wilayah.

Dalam keterangannya, Taswin menyebut istilah komitmen fee—yang di kalangan pelaku kerap disebut sebagai “jatah”—bukan sekadar rumor, melainkan praktik nyata yang berdampak langsung pada kualitas pembangunan dan integritas pemerintahan daerah.

“Praktik komitmen fee inilah yang dalam banyak kasus membuat kepala daerah memiliki kekuatan finansial dan politik yang besar. Namun dampaknya, proyek pembangunan menjadi tidak optimal dan rakyat yang dirugikan,” ujar Taswin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, dugaan praktik tersebut umumnya terjadi sejak tahap awal penganggaran hingga pelaksanaan proyek. Sebagai ilustrasi, proyek dengan nilai puluhan miliar rupiah kerap diduga mengalami pemotongan tidak resmi dalam beberapa tahap, mulai dari penetapan pemenang hingga penerbitan surat perintah kerja.

“Ketika beban biaya non-teknis terlalu besar, kontraktor dipaksa menyesuaikan di lapangan. Yang terjadi kemudian adalah pengurangan volume atau kualitas pekerjaan,” jelasnya.

Menurut Taswin, kondisi tersebut menciptakan lingkaran setan dalam tata kelola pemerintahan. Biaya politik yang tinggi saat pemilihan kepala daerah mendorong praktik pengembalian modal melalui proyek-proyek pemerintah, yang pada akhirnya merusak prinsip transparansi dan akuntabilitas anggaran.

Dampak paling nyata, lanjutnya, adalah infrastruktur yang cepat rusak dan tidak berumur panjang. Jalan, drainase, dan bangunan publik kerap tidak sesuai harapan masyarakat, meski anggaran yang dikucurkan terbilang besar.

“Publik sering disuguhi alasan cuaca atau faktor teknis. Padahal akar masalahnya adalah sistem pengelolaan anggaran yang tidak bersih sejak awal,” tegas Taswin.

Ia juga menyinggung bagaimana pencitraan kerap digunakan untuk meredam kritik publik, mulai dari kegiatan sosial, bantuan kemasyarakatan, hingga kerja sama media, yang dilakukan bersamaan dengan lemahnya kualitas pembangunan.

ASKONAS, kata Taswin, mendorong aparat penegak hukum, lembaga pengawas, serta pemerintah pusat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan dan pelaksanaan proyek daerah. Transparansi sejak tahap perencanaan hingga pengawasan dinilai menjadi kunci untuk memutus mata rantai praktik komitmen fee.

“Jika praktik ini terus dibiarkan, maka APBD akan terus menjauh dari tujuan utamanya, yakni untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Penulis : Rahman

Berita Terkait

Data SDGs 2026 Desa Hebing: Berpijak Fakta, Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran
Tinjau Wilayah Terdampak Gangguan Air PDAM, Mbak Wali Pastikan Penanganan Cepat untuk Warga
Dampak Cuaca Ekstrem, Ratusan Nelayan di Pemalang Tidak Melaut
Menikmati Kopi Tanpa Gula dan Jadah Goreng Hangat Pemecah Kantuk Tol Trans Jawa
Mahasiswa STMIK Tazkia Jalankan Business Coaching dengan Praktik Real-Bisnis dari Nol
Mantan Menparekraf Rekomendasikan E-Book “Yudi The Connector” Sebagai Bacaan Yang Inspiratif
Perubahan Ketiga UU Kepolisian: Meningkatkan Profesionalitas, Mempertegas Netralitas, dan Menyesuaikan Batas Usia Pensiun
Warga Pekalongan Pasang Banner Dukung Yakuza Maneges dan Polisi Usut Tuntas Kasus Pelecehan Seksual

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:34 WIB

Data SDGs 2026 Desa Hebing: Berpijak Fakta, Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:52 WIB

Tinjau Wilayah Terdampak Gangguan Air PDAM, Mbak Wali Pastikan Penanganan Cepat untuk Warga

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:51 WIB

Dampak Cuaca Ekstrem, Ratusan Nelayan di Pemalang Tidak Melaut

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:52 WIB

Menikmati Kopi Tanpa Gula dan Jadah Goreng Hangat Pemecah Kantuk Tol Trans Jawa

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:28 WIB

Mahasiswa STMIK Tazkia Jalankan Business Coaching dengan Praktik Real-Bisnis dari Nol

Berita Terbaru