PROBOLINGGO — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo mengambil langkah taktis untuk mendongkrak kelas produk lokal. Melalui agenda desk Corrective Action Preventive Action (CAPA), puluhan pelaku usaha Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) ditantang untuk merombak total sistem higienitas dan keamanan ruang produksi mereka.
Langkah ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan sebuah intervensi nyata pasca-inspeksi sarana produksi di lapangan. Lewat forum ini, para produsen rumahan dikawal langsung untuk membedah temuan yang berisiko menurunkan mutu produk, sekaligus merumuskan formula perbaikan (corrective action) serta pencegahan (preventive action).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya dijejali teori, para pelaku usaha juga dipersenjatai dengan keahlian melakukan audit lingkungan kerja secara mandiri. Edukasi mengenai higienitas dan sanitasi ditekankan sebagai fondasi utama, bukan lagi sekadar pelengkap administrasi izin edar.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, menegaskan bahwa program desk CAPA merupakan komitmen jangka panjang institusinya dalam mengawal standardisasi pangan di tingkat akar rumput.
“Kami ingin memastikan setiap pelaku usaha PIRT tidak sekadar memproduksi pangan, tetapi paham betul anatomi risiko dari setiap temuan pengawasan. Jika ada celah yang berpotensi mencemari produk, mereka harus tahu cara menutup celah itu secara permanen,” ujar Sri Wahyu saat memberikan keterangan resmi,(14/7/2026).
Menurut Sri Wahyu, kunci utama memenangkan hati konsumen modern terletak pada konsistensi mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kemampuan mendeteksi risiko secara dini (early warning system) di dapur produksi menjadi kewajiban mutlak bagi pelaku usaha lokal.
“Kami membekali mereka agar mampu menjadi auditor bagi bisnisnya sendiri. Ketika budaya keamanan pangan ini sudah melekat, kepercayaan konsumen otomatis akan terkunci. Efek dominonya, produk PIRT asal Kabupaten Probolinggo akan memiliki nilai tawar yang jauh lebih tinggi di pasaran,” tambahnya optimis.
Hadirnya pendampingan teknis yang ketat dari Dinkes ini diharapkan mampu memutus rantai pelanggaran izin dan kelalaian sanitasi. Output akhir yang dibidik sangat jelas: melindungi kesehatan masyarakat selaku konsumen, sekaligus melambungkan daya saing produk lokal Probolinggo di tengah ketatnya arus kompetisi pasar modern.
“Komitmen kami adalah melahirkan produk pangan yang aman, sehat, dan bermutu tinggi. Saat masyarakat mendapatkan jaminan keamanan pangan yang absolut, di saat yang sama, produk lokal kita siap bertarung di level yang lebih tinggi,” pungkas Sri Wahyu.
Penulis : Moch Solihin







