SUMENEP – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan SDN Prancak III, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Sekolah tersebut menggelar Workshop Penguatan Literasi dan Numerasi yang diikuti seluruh guru pada Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan Kepala SDN Pasongsongan I, Mariyatul Qiptiyah, S.Pd., sebagai narasumber utama.
Workshop dibuka secara resmi oleh Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd., serta dihadiri Kepala SDN Prancak III, Miftahul Ulum AS, M.Pd., bersama seluruh dewan guru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Miftahul Ulum AS mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru, khususnya pada aspek literasi dan numerasi yang menjadi salah satu indikator penting peningkatan mutu pendidikan.
“Workshop ini kami selenggarakan sebagai upaya memperkuat kapasitas guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas. Harapan kami, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan di kelas sehingga berdampak pada meningkatnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik serta mendukung peningkatan capaian Rapor Pendidikan sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd., menekankan pentingnya transformasi pembelajaran di era digital. Menurutnya, guru harus mampu memanfaatkan teknologi, termasuk perangkat Interactive Flat Panel (IFP) yang telah diberikan pemerintah, agar proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, inovatif, dan menyenangkan.
Pada sesi inti, Mariyatul Qiptiyah, S.Pd., membagikan berbagai strategi efektif dalam mengintegrasikan literasi dan numerasi ke dalam proses belajar mengajar. Dengan penyampaian yang komunikatif dan aplikatif, ia mengajak para guru untuk menciptakan pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta keterampilan pemecahan masalah pada peserta didik.
“Literasi dan numerasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia atau Matematika, tetapi harus menjadi budaya dalam seluruh proses pembelajaran di sekolah. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual sehingga siswa lebih mudah memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Mariyatul Qiptiyah.
Suasana workshop berlangsung dinamis. Para peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait tantangan pembelajaran di kelas. Interaksi yang hangat tersebut menjadikan kegiatan tidak hanya sebagai forum berbagi ilmu, tetapi juga ruang kolaborasi antarguru.
Melalui workshop ini, SDN Prancak III berharap budaya literasi dan numerasi semakin mengakar di lingkungan sekolah. Dengan peningkatan kompetensi guru yang berkelanjutan, sekolah optimistis mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, meningkatkan kualitas peserta didik, serta mendorong capaian Rapor Pendidikan yang lebih baik pada masa mendatang.







