SUMENEP — Jangan anggap remeh secangkir kopi. Di Pasongsongan, kopi bukan sekadar minuman untuk mengusir kantuk. Di balik obrolan santai, justru lahir gagasan, kritik, harapan bahkan langkah-langkah strategis untuk menggerakkan organisasi.
Semangat itulah yang terasa dalam “Ngopi Bareng” Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pasongsongan, Rabu (7/10/2026), di Gedung KH. Abdul Wachab Hasbullah Pasongsongan.
Forum tersebut dihadiri langsung Ketua PCNU Kabupaten Sumenep KH. Md. Widadi Rahim bersama jajaran pengurus PCNU. Dari MWC NU Pasongsongan hadir Ketua K. Ahmad Riyadi, M.Pd., Pengurus Harian, Ketua Badan Otonom, Ketua Lembaga dan Ketua Ranting NU se Kecamatan Pasongsongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak ada jarak antara pengurus cabang dan pengurus di tingkat kecamatan. Tidak ada sekat forum yang kaku. Yang ada adalah suasana kekeluargaan, percakapan terbuka dan semangat untuk saling mendengar.
Inilah wajah konsolidasi NU yang lahir dari bawah: sederhana, cair, tetapi sarat gagasan.
Bukan Sekadar Ngopi, Tetapi Konsolidasi Organisasi
Ketua MWC NU Pasongsongan K. Ahmad Riyadi, M.Pd., mengaku bahagia karena tradisi ngopi bareng terus dirawat hingga hari ini.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan muncul tiba-tiba. Ngopi bareng telah menjadi bagian dari kebiasaan kepengurusan MWC NU Pasongsongan sebelumnya dan kemudian diteruskan hingga ke tingkat ranting.
“Ngopi bareng ini sudah menjadi tradisi dari ketua MWC NU Pasongsongan sebelumnya. Tradisi ini kemudian kami teruskan sampai ke ranting-ranting,” ujarnya.
Namun, bagi K. Ahmad Riyadi, makna ngopi bareng jauh lebih besar daripada sekadar duduk bersama menikmati kopi.
Ngopi bareng adalah konsolidasi organisasi dalam bentuk yang lebih cair dan nonformal.
Justru dalam suasana seperti itulah, menurutnya, ide dan gagasan sering kali muncul secara spontan.
“Ngopi bareng adalah bentuk lain dari konsolidasi organisasi secara nonformal. Justru di situlah ide dan gagasan sering keluar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bahwa membangun organisasi tidak selalu harus melalui forum resmi dengan susunan acara yang panjang. Kadang, organisasi justru menemukan solusi ketika pengurus duduk bersama, berbicara apa adanya dan saling mendengarkan.
PCNU Sumenep: Kekompakan Pasongsongan Pertanda Organisasi Berjalan
Apresiasi juga datang dari Ketua PCNU Kabupaten Sumenep KH. Md. Widadi Rahim.
Ia menyampaikan terima kasih kepada jajaran MWC NU Pasongsongan atas kekompakan dan kebersamaan yang ditunjukkan.
Menurutnya, soliditas MWC NU menjadi salah satu indikator bahwa roda organisasi PCNU Kabupaten Sumenep berjalan.
“Kekompakan ini menjadi pertanda bahwa PCNU Sumenep berjalan.”
Pesan tersebut bukan sekadar pujian. Ada makna organisasi yang lebih dalam di baliknya.
Sebab, kekuatan PCNU tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan pengurus di tingkat cabang. Kekuatan sesungguhnya justru terlihat dari seberapa hidup MWC dan ranting di akar rumput.
Karena itu, PCNU Sumenep terus mendorong komunikasi langsung dengan struktur organisasi di bawah.
Datang Bukan untuk Menggurui, Tetapi untuk Mendengar
Salah satu tujuan utama kegiatan ngopi bareng tersebut adalah mendengarkan suara dari bawah.
PCNU ingin mengetahui secara langsung kebutuhan MWC dan ranting, termasuk berbagai masukan, keluhan, harapan serta persoalan yang selama ini dihadapi di lapangan.
Ini menjadi penting karena persoalan organisasi di tingkat bawah tidak selalu bisa dibaca hanya melalui laporan administratif.
Ada cerita yang hanya muncul ketika pengurus duduk bersama. Ada persoalan yang baru terbuka ketika komunikasi berlangsung tanpa sekat. Dan ada gagasan yang hanya lahir ketika semua orang diberi ruang untuk berbicara.
Karena itu, forum ngopi bareng menjadi semacam jembatan antara kebijakan di tingkat PCNU dengan realitas yang dihadapi MWC dan ranting.
Terinspirasi dari Pasongsongan
Hal yang menarik, KH. Md. Widadi Rahim mengungkapkan bahwa tradisi ngopi bareng yang kini menjadi bagian dari komunikasi PCNU tersebut justru terinspirasi dari Pasongsongan.
Artinya, gagasan tidak selalu harus datang dari atas.
Kadang, pusat belajar dari akar rumput.
Pasongsongan menunjukkan bahwa tradisi sederhana berupa duduk bersama dan berbincang dapat menjadi instrumen efektif untuk membangun komunikasi organisasi.
Dari sinilah muncul kesadaran bahwa sebelum organisasi melangkah menjalankan sebuah program, ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan: menyamakan persepsi.
Sebab program yang baik akan sulit berjalan apabila orang-orang yang menjalankannya memiliki cara pandang yang berbeda.
“Ketika kita ingin berbuat sesuatu, kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu. Lewat ngopi bareng ini kita bisa menyamakan persepsi ketika akan mengawali suatu kegiatan,” terang KH. Md. Widadi Rahim.
Ngopi Bareng Juga Menjadi Ruang Refleksi
Lebih dari sekadar konsolidasi, forum tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi para pengurus.
Sudah sejauh mana organisasi hadir di tengah masyarakat?
Apa yang sudah dilakukan?
Apa yang belum terselesaikan?
Apa yang sebenarnya dibutuhkan warga NU di tingkat bawah?
Dan yang tidak kalah penting: apakah pengurus sudah benar-benar hadir untuk umat?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang mendapatkan ruang dalam suasana ngopi bareng.
Dengan demikian, forum ini bukan hanya membicarakan program, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali keberadaan dan peran pengurus dalam menjalankan amanah organisasi.
Dari Secangkir Kopi, NU Menyusun Langkah
Kegiatan di Gedung KH. Abdul Wahab Hasbullah Pasongsongan itu akhirnya memberikan satu pesan sederhana tetapi kuat:
NU tidak harus selalu berbicara dari podium. NU juga harus mau duduk di satu meja.
Sebab ketika pengurus duduk bersama, jarak menjadi dekat. Ketika komunikasi terbuka, persoalan menjadi terang. Ketika persepsi disamakan, langkah menjadi lebih mudah. Dan ketika suara dari bawah didengar, organisasi akan lebih mampu menjawab kebutuhan umat.
Dari Pasongsongan, “Ngopi Bareng” menemukan makna yang lebih besar: menjadi ruang untuk merawat silaturahmi, menyerap aspirasi, menyamakan persepsi, melakukan refleksi dan menyiapkan gerakan bersama.**
Karena terkadang, perubahan besar tidak selalu dimulai dari rapat besar.
Ia bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: beberapa orang duduk bersama, secangkir kopi di atas meja, lalu berbicara dari hati ke hati tentang bagaimana NU harus bergerak untuk umat.
Dari kopi lahir obrolan.
Dari obrolan lahir gagasan.
Dari gagasan lahir gerakan.
Dan dari akar rumput, NU terus menguatkan dan menyatukan langkah kebersamaan.







