KEDIRI — Gelombang kritik dan kecaman di berbagai platform media sosial belakangan ini tertuju pada pemilik akun Instagram @bremy_achizar, yang juga dikenal sebagai Papi Owner sekaligus pemilik usaha Osyin Glow.
Penyebabnya tak lain adalah sebuah komentar singkat dalam unggahan video kegiatan organisasi sosial-spiritual Yakuza Maneges, pada Selasa 20/10/2026 lalu.
Dalam unggahan kegiatan sosial justice yang dipimpin langsung oleh Den Gus Thuba Topo Broto Maneges tersebut, Bremy meninggalkan kalimat: “(Lakon opo iki ba Tuba?)”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sontak, kalimat tersebut memantik reaksi keras dari para santri jalur kiri Den Gus Thuba dan anggota Yakuza Maneges.
Sebagai cucu dari ulama kharismatik asal Kediri, alm. K.H. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek), cara penyampaian dan diksi yang digunakan Bremy dinilai jauh dari etika sopan santun yang berlaku di lingkungan tokoh agama.
Untuk diketahui, Bremy dalam klarifikasinya mengaku tidak bermaksud melayangkan penghinaan, melainkan murni ingin bertanya.
Namun, alasan tersebut menyisakan tanda tanya besar di tengah publik: Apakah patut cara dan gaya bahasa sedemikian rupa digunakan untuk menanyakan kegiatan seorang figur yang dihormati?
Pertanyaan tersebut menjadi kian beralasan mengingat latar belakang hubungan antara Bremy dan Gus Thuba. Bremy dikabarkan pernah hadir secara langsung untuk sowan dan sungkem kepada Gus Thuba.
Publik pun mempertanyakan, bagaimana mungkin seseorang yang memahami tatacara penghormatan saat bertemu langsung, justru menggunakan bahasa yang terkesan mengabaikan takzim saat berkomunikasi di ruang digital?
Apakah klaim “hanya bertanya” tersebut realistis untuk membenarkan penggunan diksi yang terkesan meremehkan di mata jemaah dan santri jalur kiri? Ataukah ini bentuk kelalaian dalam menempatkan diri saat berinteraksi di media sosial?
Guna meredam ketegangan yang kian meluas, langkah mediasi pun ditempuh. Di hadapan dua Kapolsek dan perwakilan pemerintah desa, Bremy menyampaikan penyesalan mendalam serta permohonan maaf atas kekhilafan kata yang ia tuliskan.
Namun nasi telah menjadi bubur. Alasan yang disampaikan Bremy nyatanya tak cukup kuat untuk meredam kekecewaan publik, khususnya santri Den Gus Thuba.
Bremy kini harus menghadapi konsekuensi atas apa yang ditulisnya, termasuk gelombang komentar kritis dan remah hujatan netizen di berbagai jejaring media sosial.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi publik figur maupun pelaku usaha di media sosial. Di tengah kultur ketimuran dan tradisi yang menjunjung tinggi penghormatan kepada ulama, kiai serta dzurriyahnya, batasan antara “bertanya” dan “ketidakpantasan berbahasa” sering kali ditentukan oleh tingkat kesopanan diksi yang dipilih (hal yang dinilai luput dari komentar Bremy Achizar).
Sejumlah komentar pedas dan nada amarah mewarnai lini masa:
>> @Jarod *Big J*: “Dugangen cengele mbak ben ga angger njeplak cangkeman… gas tanpa ampun 🔥”
>> @MILKIMAS: “BIYOOHH TAU NJALUK TULUNG, ISO ISONE CANGKEME RA ATURAN! TRAH KIRIK”
>> @Jafar Far: “Tokor lambene dijogo to lurrr..”
>> @Akbar Hamzah: gunakan medsos dgn bijak, jgn asal ketik yg akan merugikan dirimu sendiri”
Banyaknya komentar bernada emosional tersebut mengindikasikan betapa tersinggungnya publik dan jemaah atas ucapan yang dilontarkan Bremy.
Guna memenuhi asas cover both sides dan keterbukaan informasi, jurnalis media ini sempat berupaya menghubungi Bremy melalui pesan singkat WhatsApp untuk menanyakan apakah ada poin atau tanggapan tambahan yang ingin disampaikan berkaitan dengan masifnya pemberitaan viral ini.
Namun, upaya konfirmasi tersebut membentur dinding tebal. Sikap enggan berkomunikasi secara terbuka ini kian memicu tanda tanya publik: Jika memang niat awal komentar tersebut murni bertanya tanpa maksud melecehkan, mengapa Bremy justru memilih menutup akses komunikasi saat dikonfirmasi oleh jurnalis?
Penulis : Bimo







