Ikut Demo Bareng Aktivis, Emak -emak Korban Predator Anak Teriak Marah Seraya Menangis Minta Keadilan PN Sumenep

Selasa, 26 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Emak emak korban predator anak yang zalim menyampaikan aspirasinya seraya menangis meminta keadilan agar pelaku bernama Sudiarto divonis hukuman berat dan setimpal .

Foto: Emak emak korban predator anak yang zalim menyampaikan aspirasinya seraya menangis meminta keadilan agar pelaku bernama Sudiarto divonis hukuman berat dan setimpal .

SUMENEP – Sehari jelang putusan kasus dugaan pencabulan dzalim oknum guru PNS SDN Kebunagung I bernama Sudiarto terhadap anak didiknya, Pengadilan Negeri Sumenep mencetak sejarah kelam dan buruk setelah didemo aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI ), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga emak-emak. Senin, 25/11.

Puluhan peserta aksi tersebut datang secara bersamaan dengan teriakan teriakan marah meminta agar majelis Hakim Negeri Sumenep memvonis oknum guru cabul Sudiarto dengan hukuman seberat beratnya hingga hukuman seumur hidup.

Organisasi mahasiswa yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan GMNI tersebut tampak kompak berkolaborasi kebaikan dalam mengawal kasus kemanusiaan anak dibawah umur yang telah menjadi korban predator jahat sang oknum guru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kedatangan kami bukan dalam rangka membuat onar namun menuntut keadilan agar pelaku oknum guru cabul dihukum seberat beratnya bahkan kalau bisa jangan dihukum 17 tahun tapi seumur hidup,” kata orator dari aktivis PMII.

Menurutnya, hukuman tersebut tidak sebanding dengan masa depan anak anak yang sudah dijadikan korban kejahatan sang guru yang saat ini mendekam di penjara.

“Hukuman apapun tidak akan sebanding dengan masa depan anak anak yang moral dan masa depannya telah dirusak. Guru yang seharusnya digugu dan ditiru justru tega menghancurkan anak didiknya,” tegasnya.

Sementara, emak emak yang ikut serta ada di barisan terdepan mengikuti aksi demonstrasi tersebut turut menyampaikan aspirasinya seraya menangis.

“Saya ibu korban sekaligus mewakili dari ibu ibu korban meminta keadilan terkhusus buat bapak dan ibu hakim agar keadilan untuk anak saya ditegakkan karena hingga saat ini anak saya mengalami trauma atas tindakan predator itu,” ujarnya.

“Kepada bapak dan ibu hakim agar memutus seadil adilnya terhadap predator itu sesuai tindakan predator tersebut. Jangan sampai ada lagi korban korban berikutnya. Kami mohon penegakan terhadap guru yang sudah keluar dari moralnya yang sudah merusak pendidikan di Sumenep ini,” ucapnya.

Kemudian, ketua GMNI Ali Muddin menambahkan, kasus predator anak merupakan persoalan yang sangat krusial dan duka mendalam bagi Kabupaten Sumenep.

“Bagaimana rasa sakit hati keluarga, bagaimana rasa sakit hati korban, kalau korban itu anak kalian sendiri. Bagaimana sakitnya,” tegas Ali Muddin.

“Tidak boleh ada penawaran sepeserpun bahkan ancaman hukuman pun tidak boleh ditawar. Ini adalah persoalan krusial yang mana jika satu tersakit maka semua akan tersakiti,” tambah Ali Muddin.

Sebenarnya, lanjut Ali, laporan terkait kasus predator anak tersebut tidak hanya 3 laporan namun 4 laporan. Akan tetapi setelah adanya dugaan intervensi maka 1 laporan dicabut.

“Ini ada apa ? Kami curiga ini ada permainan pemainan melawan hukum. Jika tidak ada perlawan melawan hukum maka korban tidak akan mencabut laporannya, karena ini persoalan harga diri ,” beber Ali.

Lantas, Ali Muddin secara meyakinkan mempertegas bahwa kejadian bejat predator anak dibawah itu sudah berlangsung lama.

“Mungkin kalian tidak percaya bahwa kejadian itu terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Mari kita dengarkan bersama sama sama kesaksian para alumni,” pungkas Ali seraya memperdengarkan voice note para alumni yang menjadi korban kebrutalan dan kezaliman oknum Guru Sudiarto.

Tak lama kemudian, Jubir PN Sumenep menemui para peserta aksi dan berjanji akan menindak lanjuti aspirasi para pendemo dan keluarga yang telah menjadi korban dugaan pencabulan oknum guru PNS tersebut.

Jubir PN bahkan meminta para keluarga dan para pendemo untuk mengawal proses persidangan putusan yang akan digelar besok hari Selasa, 26/11/2024, apakah sesuai tuntutan atau tidak.

 

Penulis : Igusty- Amin

Berita Terkait

Sempat Memanas di WhatsApp dan TikTok, Perselisihan Eks Karyawan dengan Pimpinan Salon di Kediri Berakhir Damai
Dugaan Praktik Perjudian di Ngancar Menantang Taji APH: Warga Tuntut Langkah Nyata
MPLS Bernuansa Karakter! Pendongeng Nasional Kak Avan Ajak Siswa SDN Pasongsongan I Sumenep Tolak Bullying, Kepsek Tegaskan Pentingnya Empati Sejak Dini
Temukan Jasad Bayi Laki-Laki di Kawasan Hutan Karet Mojo Kediri, Warga Lapor Polisi Minta Pelaku Segera Ditangkap
Icha Chellow dan Mala Agatha Dilaporkan Yakuza Maneges ke Polresta Malang Kota
Keluhan Warga Morosunggingan Belum Tuntas, Dugaan Penyimpangan Pupuk Subsidi Kembali Menjadi Sorotan
SD Muhammadiyah 1 Bawean dan SMP Muhammadiyah 3 Sangkapura Gresik Gelar MPLS, Usung Tema “MELINGKARLAH” dengan Konsep Circus Show
GEBRAKAN AWAL TAHUN! MPLS Ramah SDN Panaongan III Dibuka Dua Pengawas Sekaligus, Luncurkan SAKOPENGAN dan Hotline PORAGUS

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:52 WIB

Sempat Memanas di WhatsApp dan TikTok, Perselisihan Eks Karyawan dengan Pimpinan Salon di Kediri Berakhir Damai

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:09 WIB

Dugaan Praktik Perjudian di Ngancar Menantang Taji APH: Warga Tuntut Langkah Nyata

Rabu, 15 Juli 2026 - 17:07 WIB

MPLS Bernuansa Karakter! Pendongeng Nasional Kak Avan Ajak Siswa SDN Pasongsongan I Sumenep Tolak Bullying, Kepsek Tegaskan Pentingnya Empati Sejak Dini

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:21 WIB

Temukan Jasad Bayi Laki-Laki di Kawasan Hutan Karet Mojo Kediri, Warga Lapor Polisi Minta Pelaku Segera Ditangkap

Senin, 13 Juli 2026 - 22:57 WIB

Icha Chellow dan Mala Agatha Dilaporkan Yakuza Maneges ke Polresta Malang Kota

Berita Terbaru