PAMEKASAN— Mafia rokok ilegal di Pamekasan seakan menari di atas panggung tanpa lawan. Sementara itu, Bea Cukai (BC) Madura di bawah kendali Novian Dermawan justru dinilai hanya menjadi penonton, membiarkan bisnis haram ini tumbuh subur.
Rokok merek Boss Caffe Latte, yang disebut-sebut milik RD, menjadi contoh nyata. Produksinya jelas bersarang di Pamekasan, namun ironisnya justru Bea Cukai Makassar yang berhasil menggagalkan distribusinya pada April 2025 lalu.
Ribuan batang rokok ilegal itu dicegat saat hendak dikirim ke berbagai daerah, mulai Maros, Barru, Luwuk Utara, Gorontalo, Konawe, Poso, hingga Kepulauan Banggai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik pun dibuat geram. Bagaimana mungkin wilayah hukum Bea Cukai Madura dibiarkan jadi ladang emas mafia, sementara aparat setempat seolah tak berkutik.
Tim investigasi Detikzone asal Pamekasan menegaskan, pembiaran ini sudah kelewatan.
“BC Madura tahu betul di mana pabriknya, siapa bos-bosnya, dan bagaimana distribusinya. Tapi sampai hari ini tak ada gebrakan berarti. Jangan-jangan sengaja dibiarkan? Malu, rokok ilegal di wilayah sendiri justru dibongkar oleh aparat luar daerah,” ujarnya, Jumat (12/9/2025).
Desakan agar Kementerian Keuangan turun tangan langsung kian keras. Warga Pamekasan R meminta pertanggungjawaban para pejabat Bea Cukai Madura yang dianggap gagal menjalankan tugas.
“Ini tamparan yang sangat memalukan. Rokok merek Boss Caffe Latte dibiarkan Merajalela di Pamekasan namun justru ditangkap di Makassar,” ujar R.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Bea Cukai Madura Novian Dermawan belum bisa dimintai klarifikasi.
Sementara itu, tim investigasi Detikzone menyatakan sudah mengantongi daftar merek rokok ilegal beserta nama-nama bos besar yang selama ini dibiarkan merajalela.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya wibawa penegakan hukum yang runtuh, tetapi juga kerugian negara dari cukai yang mencapai miliaran rupiah setiap harinya.
Penulis : Redaksi








