PAMEKASAN – Ironi mencolok kembali menyeruak di tengah gencarnya kampanye “Budayakan Rokok Legal” yang digagas Bea Cukai (BC) Madura. Di hadapan publik, mereka menyerukan agar masyarakat tidak membeli rokok ilegal. Namun di lapangan, justru para produsen rokok ilegal dibiarkan leluasa beroperasi di bawah hidung mereka sendiri.
Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Bea Cukai Madura, Andru Ledwan Permadi, dengan lantang menyatakan bahwa “setiap pembelian rokok ilegal berarti mendukung pelanggaran hukum dan merugikan negara.”
Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara talkshow bersama Karimata FM yang juga dihadiri Bupati Pamekasan, Kejaksaan Negeri, dan Satpol PP setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, fakta di lapangan justru memperlihatkan pemandangan berbeda.
Bea Cukai Madura yang dipimpin Novian Dermawan dinilai membiarkan para pelaku rokok ilegal terus tumbuh subur di wilayah pengawasannya, terutama di Kabupaten Pamekasan yang kini dijuluki sebagai “surga rokok bodong.”
Investigasi Detikzone mengungkap sedikitnya puluhan merek rokok ilegal yang diproduksi di Pamekasan dan beredar bebas tanpa gangguan aparat.
Mulai dari Marbol milik Bulla (Plakpak), Just Full milik Sultan Pamekasan berinisial AJ, hingga MasterClass milik Haji MJ, yang ironisnya merupakan ASN Pemkab Pamekasan.
Belum berhenti di situ. Ada pula merek Premium Bold (Haji J – Desa Akkor), 54ryaku (keluarga oknum polisi), Suryaku (Haji Horrah – Blumbungan), Surya Jaya (Haji Y – Larangan), Aswad (Haji SL), Sinar Gudang Emas (Haji HR), HMIN (TMN), Esje (FK), Angker dan Newscastle (UM), Geboy (Haji Fahmi – Sekar Anom), HIMMA dan RS (Haji AM – Sentol), Boss Caffe Latte (RD), Bintang (IP – Duko), dan Alphad (Haji RJ – Blumbungan).
Yang lebih mengagetkan, pabrik resmi PR. Subur Jaya Pamekasan yang sudah mengantongi izin resmi NPPBKC justru diduga mengakali pita cukai.
Produk SUBUR JAYA HJS SKM isi 20 batang beredar luas menggunakan pita cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT) isi 12 batang, yang jelas menyalahi aturan.
Di tengah fakta ini, publik menilai kampanye “Budayakan Rokok Legal” yang disuarakan Bea Cukai Madura tak lebih dari seremonial kosong.
Talkshow edukasi berjalan megah, sementara di belakang layar, pabrik-pabrik rokok ilegal seolah kebal hukum dan terus menggiling mesin produksinya siang dan malam.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya berjanji akan “menangkap siapa pun yang terlibat dalam jaringan rokok ilegal, termasuk oknum di Bea Cukai sendiri.”
Jika pembiaran ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap penegakan hukum akan runtuh bersamaan dengan asap rokok ilegal yang terus mengepul di langit Pamekasan.
Penulis : Redaksi







