PAMEKASAN– Aksi Bea Cukai (BC) Madura yang dipimpin Novian Dermawan kembali menjadi bahan gunjingan publik. Alih-alih menindak tegas mafia rokok ilegal yang bersarang di wilayah pengawasannya, BC Madura justru jauh-jauh turun ke akses Suramadu untuk melakukan operasi, sementara pabrik dan bandar rokok ilegal di Pamekasan seakan “dibiarkan hidup beranak Pinak”.
Dalam operasi terbaru, tim gabungan BC Madura menyetop beberapa kendaraan yang dicurigai membawa rokok ilegal. Hasilnya, ditemukan beberapa bus yang membawa rokok ilegal dari berbagai merek, antara lain Newscastle dan Just Mild. Anehnya, rokok-rokok tersebut diduga diproduksi di Pamekasan, satu wilayah dengan kantor BC Madura sendiri.
Bandar besar seperti UM (pemilik rokok Angker) dan Haji Junaidi (pemilik PR Subur Jaya) masih berkeliaran bebas tanpa tindakan hukum. Bahkan, PR Subur Jaya diketahui tetap memproduksi dan mengedarkan rokok ilegal dengan cara mengakali pita cukai dengan merek SUBUR JAYA HJS.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, tercatat puluhan bandar rokok ilegal lainnya di Pamekasan yang bebas beroperasi, di antaranya:
Tali Jaya Mild milik Haji Taufiq, pemilik pabrik rokok resmi Desa Ponteh, Galis.
Geboy milik Haji Fahmi.
DALILL, YS BOLD, SANTOS milik pengusaha berinisial FR.
Marbol, MasterClass, Premium Bold, 54ryaku, Suryaku, Surya Jaya, Aswad, Sinar Gudang Emas, HMIN, Esje, HIMMA, Boss Caffe Latte, Bintang, Alphad, Lombok Mas, Be Fly Bold, Bonte, Khanfa, ST16MA, dan masih banyak lagi.
Ironisnya, beberapa rokok ilegal dikendalikan oleh oknum aparat dan anggota dewan setempat, namun hingga kini mereka tetap bebas melenggang tanpa tersentuh hukum. Janji Menteri Keuangan Purbaya untuk menumpas mafia rokok ilegal pun sejauh ini masih menjadi omong kosong, tidak ada satupun bandar yang ditangkap.
“Sejauh ini, para mafia rokok ilegal di Pamekasan seakan dipelihara, bukan ditindak. Bea Cukai jadi penonton di wilayahnya sendiri,” kritik salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Sementara, Ilham Budiman, Aktivis Madura menyebut bahwa Bea Cukai Madura gagal total.
“Operasi jauh-jauh ke Suramadu hanya pencitraan, pabrik dan cukong rokok ilegal di Pamekasan bebas berkeliaran di depan mata aparat. Ini bukan kebetulan, ini aib penegakan hukum,” ujarnya.
Mafia rokok merajalela, aparat seakan tuli dan buta. Rakyat dirugikan, negara kehilangan pajak, tapi para cukong tertawa lepas. Suramadu dijadikan panggung simbolik, Pamekasan jadi surga cukong ilegal.
“Hukum harus tegas, bukan main sandiwara. Jika aparat terus diam, kepercayaan publik hancur, dan kriminal semakin berani. Saatnya hentikan drama, tangkap semua mafia rokok ilegal di Pamekasan sekarang juga,” tandas Ilham.
Detikzone bersama tim investigasi kini terus menelusuri dan memetakan keberadaan para bandar rokok ilegal yang masih bebas, berharap aparat dan pemerintah bertindak tegas sebelum kerugian negara semakin membengkak akibat maraknya peredaran rokok ilegal.
Penulis : Redaksi






