Air Irigasi Mati Tanpa Pemberitahuan, Petani Empat Desa Probolinggo Terancam Gagal Tanam

Sabtu, 22 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, detikzone.id — Proyek perbaikan Daerah Irigasi (DI) Taposan di Desa Ngepoh berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan petani. Pasokan air ke areal persawahan tiba-tiba terhenti sejak 19 September 2025, membuat lahan pertanian di empat desa, Sumbersuko, Sekarkare, Mranggon Lawang, dan Tamansari kering dan terancam gagal tanam.

Semenjak aliran air “dimatikan”, petani kini hanya mengandalkan hujan untuk menyelamatkan tanaman mereka. Bendung Taposan yang selama ini menjadi penopang kebutuhan air pertanian, praktis tidak lagi mengalirkan air secara normal.

Kondisi ini membuat petani terpukul. Yusuf (40), petani bawang merah di Kecamatan Dringu, mengaku terkejut sebab pasokan air terhenti tanpa pemberitahuan resmi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 “Kasihan petani, mau tanam air mati, sedangkan lahan dan bibit sudah dipersiapkan,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).

Proyek perbaikan DI Taposan yang dikerjakan UPT PSDA Welang Pekalen, Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur menjadi penyebab utama aliran air terganggu. Namun yang membuat keadaan semakin kacau, para pihak terkait justru terkesan saling mengalihkan tanggung jawab.

Pihak DPUPR Kabupaten Probolinggo, melalui Rizky dari Bidang Sumber Daya Air, mengatakan bahwa aliran air seharusnya tetap berjalan dengan sistem buka-tutup berdasarkan kesepakatan petani.

 “Info dari provinsi tidak ada kendala di lapangan terkait buka tutup aliran air. Karena itu pengerjaan provinsi, silakan sampean konfirmasi ke sana atau hubungi Roni, UPT Korwil Pekalen,” ucapnya.

Ketika dikonfirmasi, Roni, Koordinator Wilayah Pekalen, justru menyebut bahwa pihaknya sudah melakukan pemberitahuan kepada pemerintah desa dan HIPPA.

 “Oke, nanti akan saya tindak lanjuti hari Senin ke pihak yang terdampak dan HIPPA-nya,” jawabnya singkat.

Meski demikian, hingga kini para petani mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan resmi apa pun, baik dari desa, HIPPA, maupun pihak provinsi. Alhasil, petani hanya bisa menatap sawah yang mengering sambil menunggu siapa yang akhirnya mau bertanggung jawab atas kekacauan ini.

Padahal, DI Taposan merupakan tulang punggung irigasi yang menghidupi ratusan hektare lahan. Terhentinya pasokan air tanpa koordinasi yang jelas menunjukkan buruknya manajemen komunikasi antarinstansi, sekaligus memperlihatkan lemahnya perlindungan terhadap nasib petani.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret dari pihak provinsi maupun kabupaten untuk memulihkan aliran air atau memberi kepastian kepada petani yang terancam gagal panen. Warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji tindak lanjut, tetapi segera turun ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan yang sudah merugikan banyak pihak ini.

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Walau CCTV Ada, Percuma Lapor Polisi Kalau Tak Ada Kepastian! Polresta Sumenep Didesak Ungkap Bandit Curanmor Pasongsongan yang Meresahkan
Gagal Diselundupkan ke Afrika! Bea Cukai dan Polri Gagalkan Ekspor Ilegal 3,4 Ton Merkuri Senilai Rp17,5 Miliar dari Surabaya
Yakuza Maneges MPR Ungkap Dugaan Pencabulan Santri di Ruang Tertutup, Oknum Pengajar Ponpes di Malang Diamankan
Polsek Guluk-Guluk dan Resmob Polresta Sumenep Ringkus Pembacok Lansia
Motor Warga Pasongsongan Digondol Maling, Kapolresta Sumenep Ditantang Buktikan Tak Ada Ruang bagi Bandit Curanmor
Diduga Tipu Korban dengan Janji Manis, Perempuan Asal Talkandang Resmi Ditahan Polres Situbondo
Gerak Cepat Polsek Masalembu Polresta Sumenep! Dua Nelayan Dibekuk Usai Gagal Curi Motor
Jalanan Probolinggo Darurat Debu, Truk Tambang Tanpa Terpal Bebas Beraksi, Polisi Bungkam

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:27 WIB

Walau CCTV Ada, Percuma Lapor Polisi Kalau Tak Ada Kepastian! Polresta Sumenep Didesak Ungkap Bandit Curanmor Pasongsongan yang Meresahkan

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:49 WIB

Gagal Diselundupkan ke Afrika! Bea Cukai dan Polri Gagalkan Ekspor Ilegal 3,4 Ton Merkuri Senilai Rp17,5 Miliar dari Surabaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:40 WIB

Yakuza Maneges MPR Ungkap Dugaan Pencabulan Santri di Ruang Tertutup, Oknum Pengajar Ponpes di Malang Diamankan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:04 WIB

Polsek Guluk-Guluk dan Resmob Polresta Sumenep Ringkus Pembacok Lansia

Senin, 27 Juli 2026 - 19:12 WIB

Motor Warga Pasongsongan Digondol Maling, Kapolresta Sumenep Ditantang Buktikan Tak Ada Ruang bagi Bandit Curanmor

Berita Terbaru