Oleh: Radel Virdiana
Kampus: STMIK TAZKIA BOGOR
Email:251572010038radelvirdiana@student.stmik.tazkia.ac.id
Lead
Dulu, lokasi adalah segalanya. Warung di pinggir jalan besar hampir pasti lebih ramai daripada warung di gang sempit. Logikanya sederhana: semakin ramai lalu lalang orang, semakin besar peluang pembeli datang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun hari ini, kenyataan itu mulai runtuh pelan-pelan. Di TikTok dan Instagram, penjual risol rumahan bisa kebanjiran pesanan, sementara toko di ruko mahal justru sepi. Dunia bisnis sedang mengalami pergeseran besar: yang menentukan bukan lagi posisi tempat, melainkan posisi dalam perhatian orang.
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat.
Ia adalah tanda bahwa cara konsumen memilih, menilai, dan mempercayai sebuah usaha sudah berubah. UMKM yang tidak menyadari pergeseran ini berisiko tertinggal, meskipun mereka sudah berada di lokasi yang dulu dianggap “emas”.
Pemaparan Masalah
Masih banyak pelaku UMKM yang memegang keyakinan lama bahwa keberhasilan usaha sangat ditentukan oleh lokasi. Akibatnya, tidak sedikit yang berani mengeluarkan biaya besar untuk sewa tempat strategis, meskipun modal terbatas. Mereka memilih ruko di pinggir jalan, kios di pusat keramaian, atau lapak di pasar dengan keyakinan bahwa keramaian otomatis berarti penjualan.
Masalah muncul ketika realitas tidak seindah harapan. Setelah usaha berjalan, pembeli tidak seramai yang dibayangkan.
Biaya sewa terus berjalan setiap bulan, sementara omzet tidak cukup untuk menutup pengeluaran. Banyak pelaku usaha akhirnya terjebak dalam situasi berat: pindah tempat berarti rugi, bertahan pun terasa perlahan-lahan menguras modal.
Persoalan ini bukan selalu karena produk mereka buruk. Banyak UMKM sebenarnya punya kualitas yang layak, harga yang bersaing, dan pelayanan yang baik. Masalah utamanya terletak pada perubahan perilaku konsumen. Hari ini, orang tidak lagi hanya memilih berdasarkan apa yang mereka lihat saat lewat di depan toko.
Mereka membuka ponsel, menggulir layar media sosial, lalu memutuskan membeli dari akun yang menarik perhatian dan terasa meyakinkan. Jika UMKM tidak hadir di ruang digital itu, maka sebagus apa pun lokasinya, usaha tetap berisiko tidak terlihat.
Analisis dan Argumentasi
Kita hidup di era yang sering disebut sebagai attention economy atau ekonomi perhatian. Artinya, perhatian manusia menjadi sumber daya paling berharga. Setiap hari, orang dibombardir oleh ratusan konten: video, foto, iklan, dan cerita. Di tengah banjir informasi itu, usaha yang mampu mencuri perhatian secara positif akan lebih mudah diingat dan dipilih.
Media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp telah berubah fungsi menjadi etalase utama bisnis. Jika dulu etalase adalah kaca toko di pinggir jalan, kini etalase itu adalah layar ponsel. Bedanya, etalase digital ini bisa dilihat oleh siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.
Fenomena ini bisa dilihat dari banyak contoh nyata di sekitar kita.
Penjual donat rumahan yang awalnya hanya melayani tetangga, bisa mendapat ratusan pesanan setelah satu video proses memasaknya viral. Penjual minuman gerobakan bisa dikenal satu kota karena konten sederhana yang memperlihatkan keramahan cara melayani pelanggan. Penjahit rumahan bisa mendapat klien dari luar daerah karena hasil karyanya dibagikan secara konsisten di media sosial.
Menariknya, konten yang membuat mereka berhasil sering kali bukan konten mahal dan profesional. Justru konten yang sederhana, jujur, dan manusiawi yang paling kuat dampaknya. Video tangan yang sedang menguleni adonan, cerita singkat tentang perjuangan membuka usaha, atau testimoni pelanggan yang puas sering kali jauh lebih meyakinkan daripada iklan formal yang terasa kaku.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa promosi hari ini tidak lagi sekadar soal siapa yang punya tempat paling strategis, tetapi siapa yang punya cerita paling relevan. Konsumen modern tidak hanya membeli produk, mereka juga membeli rasa percaya.
Media sosial memungkinkan UMKM membangun hubungan emosional dengan calon pembeli. Ketika orang merasa dekat, merasa mengenal, dan merasa percaya, keputusan membeli muncul lebih alami dan lebih kuat.
Sayangnya, banyak pelaku UMKM belum benar-benar menyadari kekuatan ini. Media sosial sering dipandang hanya sebagai pelengkap.
Akun dibuat sekadar ada, tetapi jarang diisi. Ada yang merasa malu tampil di depan kamera, ada yang menganggap membuat konten itu sulit, ada pula yang merasa tidak punya waktu. Padahal, ketidakhadiran di media sosial sama artinya dengan membuka toko di tempat yang tidak pernah dilewati siapa pun.
Lebih jauh lagi, media sosial memberi keunggulan yang tidak dimiliki lokasi fisik: jangkauan. Toko di pasar tradisional hanya menjangkau orang di sekitar pasar. Tetapi satu video di TikTok bisa ditonton ribuan bahkan jutaan orang dari berbagai daerah.
Artinya, peluang pasar UMKM menjadi jauh lebih luas tanpa harus membuka cabang atau menyewa tempat baru. Dari sisi biaya, ini jauh lebih efisien dibanding mengandalkan lokasi fisik semata.
Solusi dan Rekomendasi
UMKM perlu mengubah cara pandang:
dari berburu lokasi strategis menjadi membangun kehadiran digital yang strategis.
Media sosial seharusnya diperlakukan sebagai aset utama usaha, bukan sekadar hiburan atau pelengkap.
Langkah awalnya tidak harus rumit. Konten tidak perlu selalu terlihat profesional.
Justru konten yang jujur dan sederhana sering terasa lebih meyakinkan bagi audiens. Foto produk yang jelas, video proses pembuatan, cerita di balik usaha, testimoni pelanggan, hingga aktivitas sehari-hari di balik layar sudah cukup kuat untuk menarik perhatian.
Konsistensi jauh lebih penting daripada kesempurnaan.
Mengunggah konten secara rutin, meskipun sederhana, akan membuat usaha terus muncul di ingatan calon pelanggan. Sedikit demi sedikit, akun usaha akan membangun audiens yang loyal.
Di sinilah kekuatan jangka panjang media sosial: bukan hanya mendatangkan pembeli sekali, tetapi membangun hubungan berkelanjutan.
Interaksi juga menjadi kunci penting. Membalas komentar, menjawab pesan dengan ramah, dan menyebut nama pelanggan memberi kesan bahwa pembeli dihargai sebagai manusia, bukan sekadar sumber uang. Di era digital, pengalaman emosional seperti ini sering kali lebih berharga daripada potongan harga.
Dukungan dari pemerintah, sekolah, dan lembaga pelatihan juga perlu diarahkan ke arah yang lebih relevan dengan zaman.
Pelatihan UMKM seharusnya tidak hanya berisi cara membuat laporan keuangan atau mengurus izin usaha, tetapi juga mencakup keterampilan komunikasi digital. Mengajari pelaku usaha cara bercerita, memahami perilaku audiens, membangun citra usaha, serta menggunakan media sosial secara strategis akan jauh lebih membantu keberlanjutan usaha mereka.
Penutup
Lokasi masih penting, tetapi tidak lagi menentukan segalanya. Di era digital, perhatian adalah mata uang baru. UMKM yang mampu merebut perhatian melalui konten yang jujur, cerita yang kuat, dan interaksi yang hangat akan lebih unggul dibanding usaha yang hanya mengandalkan tempat strategis.
Bisnis hari ini bukan tentang siapa yang paling dekat dengan jalan raya, tetapi siapa yang paling dekat dengan hati dan pikiran pelanggan.
UMKM yang memahami perubahan ini dan berani beradaptasi akan memiliki peluang jauh lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat.








