Sumenep, 18 Agustus 2026 — Pendidikan karakter tidak selalu harus hadir melalui pelajaran di dalam kelas. Di SDN Panaongan III, nilai empati, kepedulian, dan berbagi justru tumbuh dalam bentuk aksi nyata yang sederhana, tetapi mampu menyentuh hati.
Kali ini, sebuah kisah mengharukan datang dari siswa kelas VI. Dengan menyisihkan sebagian uang jajan mereka, para siswa secara diam-diam mengumpulkan uang untuk membelikan tas dan sepatu baru bagi teman sekelas mereka, Rahman, yang mereka lihat sudah menggunakan perlengkapan sekolah yang tidak layak pakai.
Aksi tersebut dilakukan atas inisiatif para siswa sendiri. Mereka tidak menunggu instruksi guru ataupun meminta bantuan pihak sekolah. Berbekal rasa kasihan dan kepedulian terhadap kondisi temannya, mereka sepakat untuk urunan dari uang pribadi yang biasanya digunakan untuk jajan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu siswa, Helmy mengungkapkan bahwa dirinya bersama teman-temannya merasa prihatin ketika melihat tas dan sepatu Rahman yang sudah sangat tidak layak digunakan.
> “Kami kasihan melihat teman kami. Tas dan sepatunya sudah tidak layak dipakai. Jadi kami berinisiatif mengumpulkan uang untuk dibelikan tas dan sepatu,” ungkap Helmy.
Apa yang dilakukan anak-anak tersebut bahkan menjadi kejutan bagi wali kelas VI, Yiyik Sufiyah, S.Pd. Ia mengaku tidak mengetahui rencana para siswa tersebut sebelumnya.
Dirinya baru mengetahui ketika jam pelajaran dimulai setelah pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat itu, ia mendapati bahwa siswa kelas VI telah menyiapkan sebuah kejutan sederhana untuk Rahman.
Tanpa seremoni mewah, tanpa publikasi yang berlebihan, anak-anak itu menyerahkan hadiah yang dibeli dari hasil menyisihkan uang jajan mereka sendiri.
Bagi Rahman, kejutan tersebut menjadi momen yang sangat mengharukan.
Ia mengaku sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan tas dan sepatu baru dari teman-teman sekelasnya. Terlebih, barang tersebut memang sangat ia butuhkan.
Rahman pun menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh teman kelas VI atas perhatian dan kebaikan yang telah diberikan kepadanya.
Kisah tersebut seolah melanjutkan jejak pendidikan karakter yang selama beberapa tahun terakhir terus digalakkan di SDN Panaongan III. Sebelumnya, Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd., juga pernah melakukan aksi kemanusiaan dengan membantu mengusahakan bantuan bagi Irsya, seorang anak dengan keterbatasan fisik pada kedua kakinya. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan terwujudnya bantuan kaki palsu yang dibutuhkan.
Namun kali ini, aksi kepedulian itu datang dari anak-anak didiknya sendiri.
Bagi Agus Sugianto, hal tersebut menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri. Kepala sekolah yang dikenal ikonik dengan Blangkon, itu mengaku bangga dan terharu melihat inisiatif yang lahir dari para siswa.
Menurutnya, apa yang dilakukan siswa kelas VI merupakan salah satu buah dari pembiasaan pendidikan karakter yang selama ini terus dikembangkan di sekolah.
“Ini yang membuat saya bangga sekaligus terharu. Anak-anak ternyata tidak hanya belajar tentang karakter di dalam kelas, tetapi mampu menerjemahkannya dalam tindakan nyata. Mereka melihat temannya membutuhkan, kemudian tergerak untuk membantu,” ujarnya.
Ia berharap apa yang dilakukan siswa kelas VI dapat menjadi inspirasi bagi seluruh siswa SDN Panaongan III.
Sebab, menurutnya, pendidikan karakter bukan sekadar tentang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Lebih dari itu, karakter harus tumbuh menjadi kebiasaan untuk peduli, berbagi, membantu, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
“Semoga apa yang dilakukan kelas VI ini bisa menginspirasi kelas-kelas lainnya. Tidak harus dengan sesuatu yang besar. Kepedulian bisa dimulai dari hal kecil, bahkan dari menyisihkan uang jajan dan memberikan apa yang memang dibutuhkan oleh teman,” harap Agus.
Kisah sederhana dari kelas VI SDN Panaongan III itu memberikan pesan yang begitu dalam: kadang-kadang, pendidikan terbaik bukanlah yang paling banyak dibicarakan, tetapi yang terlihat dalam tindakan.
Tas dan sepatu mungkin hanya sebuah benda.
Namun bagi Rahman, hadiah itu adalah tanda bahwa dirinya tidak sendirian. Ada teman-teman yang memperhatikannya, peduli kepadanya, dan mau berbagi sebagian dari apa yang mereka miliki.
Dan bagi sekolah, mungkin inilah salah satu bentuk keberhasilan pendidikan karakter yang sesungguhnya ketika anak-anak mulai mampu melihat kesulitan orang lain, kemudian memilih untuk peduli.
Karena dari uang jajan yang disisihkan, lahir sebuah pelajaran besar tentang kemanusiaan.
Bahwa berbagi tidak menunggu kaya, dan peduli tidak harus menunggu dewasa.







