SAMPANG, Detikzone.id – Keresahan warga memuncak. Jalan penghubung vital antara Kecamatan Tambelangan dan Banyuates, Kabupaten Sampang, kembali menelan korban. Sebuah mobil pick-up terguling di Desa Sumber, akibat rusaknya infrastruktur jalan yang tak kunjung diperbaiki, Sabtu, 14/06/2025.
Peristiwa nahas itu terekam dalam video yang kini viral di media sosial. Terdengar jeritan warga yang emosional, menuntut pertanggungjawaban dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang di bawah kepemimpinan Bupati Slamet Junaidi.
“Ayo pemerintah bangun jalannya. Ini ada korban, pick-up terguling. Ayo bangun, segera bangun!” teriak salah satu warga dalam video tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jalan poros ini telah lama dikeluhkan. Kondisinya berlubang, bergelombang, dan gelap tanpa penerangan. Kerusakan ekstrem ini mengancam keselamatan pengguna jalan setiap hari. Meski menjadi jalur strategis distribusi ekonomi antar kecamatan, upaya perbaikan serius dari Pemkab Sampang nyaris tak terlihat.
Ironisnya, di tengah diamnya pemerintah, sejumlah netizen justru menyerukan perbaikan jalan secara swadaya.
“Itu harus dikerjakan secara swadaya, insyaallah jembatannya bagus. Jangan menunggu Pemkab Sampang,” tulis seorang pengguna media sosial.
Pernyataan itu menjadi tamparan telak bagi Pemkab Sampang yang dianggap gagal menjalankan tanggung jawab dasar: menyediakan infrastruktur aman dan layak bagi rakyat.
Sorotan tajam juga datang dari Rofi, aktivis Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur. Ia menilai, pembiaran jalan rusak hingga memicu kecelakaan adalah bentuk pelanggaran hukum.
“Kegagalan melindungi masyarakat adalah pelanggaran terhadap Undang-Undang Perlindungan Konsumen,” tegasnya dalam pesan kepada redaksi.
Ia merujuk pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dalam Pasal 4 huruf a dan c disebutkan, konsumen berhak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan. Sedangkan Pasal 7 huruf a mengamanatkan pelaku usaha dalam hal ini pemerintah wajib beritikad baik dalam menjalankan tugasnya.
Dengan kata lain, ketidakseriusan Pemkab Sampang memperbaiki jalan sama saja dengan mengabaikan keselamatan warganya.
Desakan terhadap Bupati Slamet Junaidi bukanlah hal baru. Sepanjang masa jabatannya, isu jalan rusak selalu jadi sorotan, namun minim solusi nyata. Tahun 2025 nyaris setengah berlalu, namun perbaikan jalan belum juga tampak.
Kini publik bertanya: sampai kapan warga Tambelangan dan Banyuates harus mempertaruhkan nyawa di jalan rusak?
Masyarakat tidak butuh janji atau alibi anggaran. Mereka butuh aksi. Karena jalan bukan sekadar aspal, tapi urat nadi kehidupan. Dan jika dibiarkan rusak, itu bukan sekadar kelalaian melainkan skenario maut yang disengaja oleh pembiaran pemerintah.
Penulis : Anam









