PROBOLINGGO, Detikzone.id —
Warga Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo dibuat geram. Proyek rehabilitasi lapangan serbaguna senilai Rp 121 juta yang bersumber dari APBD Tahun 2025 (Pokir) diduga dikerjakan asal-asalan.
Pantauan tim Detikzone.id di lokasi menunjukkan paving pecah tetap dipasang, bahkan permukaan lapangan tampak bergelombang dan tidak rata. Potongan-potongan paving sengaja digunakan untuk menambal celah agar tampak rapi di permukaan, namun sebenarnya rapuh dan rawan amblas.
Celakanya, tanah urug di bawahnya terlihat gembur dan tidak dipadatkan menggunakan alat stemper atau baby roller, membuat struktur lapangan rawan rusak sebelum digunakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Baru selesai, tapi sudah bergelombang seperti laut,” keluh salah satu warga sekitar yang enggan disebut namanya.
Lebih parah lagi, papan proyek yang terpasang di lokasi tidak memuat detail informasi penting, seperti nomor kontrak, volume pekerjaan, maupun waktu pelaksanaan. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa transparansi publik sengaja diabaikan, bahkan seolah ada upaya menyembunyikan sesuatu.
Dalam papan tersebut hanya tertulis Kegiatan Rehabilitasi Lapangan Serbaguna Desa Mentor Kecamatan Sumberasih (Pokir) – Anggaran Rp 121.171.000, Sumber Dana APBD 2025, Pelaksana CV Elemet Kreatif Grup.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Bidang Tata Bangunan dan Pertanahan Dinas Perkim Kabupaten Probolinggo, Slamet Yuni Maryono, tidak menampik lemahnya pengawasan di lapangan.
“Benar, personel kami terbatas untuk mengawasi seluruh proyek di Kabupaten Probolinggo. Namun kami sudah perintahkan tim konsultan pengawas untuk segera melakukan pengecekan,” ujarnya, Rabu (15/10/2025).
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, tidak ada tindakan tegas dari dinas maupun pemerintah daerah. Proyek yang jelas-jelas dikerjakan dengan kualitas buruk itu masih terus dilanjutkan tanpa perbaikan berarti.
Warga mendesak aparat penegak hukum dan Inspektorat Kabupaten Probolinggo turun tangan.
“Kalau dibiarkan seperti ini, sama saja membuang uang rakyat. Baru diresmikan sudah rusak, ini proyek siapa yang sebenarnya diawasi?” sindir warga lainnya.
Kuat dugaan, lemahnya pengawasan dan kurangnya transparansi menjadi celah bagi kontraktor bermain aman, memotong biaya material demi keuntungan pribadi.
Kini, masyarakat menanti langkah tegas dari Dinas Perkim dan aparat hukum untuk memastikan proyek dengan dana publik ratusan juta rupiah itu tidak berubah jadi monumen ketidakberesan.
Proyek yang seharusnya menjadi kebanggaan warga justru meninggalkan jejak kekecewaan dan tanda tanya besar, siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pekerjaan asal jadi ini.
Penulis : Moch Solihin









