Lesbumi Sumenep: Seni Jadi Jembatan Tradisi dan Islam, Menyentuh Hati Tanpa Menggurui

Kamis, 19 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP – Rabu, 18 Maret 2026, Blank On Cafe di Sumenep menjadi saksi bisu lahirnya percikan gagasan tentang bagaimana seni dapat menjadi penopang tradisi sekaligus wahana dakwah yang halus. Dalam diskusi yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, hadir para jurnalis, tokoh budaya, dan penggiat LSM, yang bersama-sama menyimak pemaparan inspiratif Pengurus PW Lesbumi Jawa Barat, Moh Wail Irsyad, atau akrab disapa Wail.

Wail memulai diskusi dengan mengaitkan kesenian dengan nilai-nilai kemaduraan, menekankan bahwa tradisi lokal bukan sekadar estetika, tetapi medium untuk menanamkan pesan keislaman yang lembut dan menyentuh hati.

Ketua PCNU Sumenep terpilih, KH Md Widadi Rahim, menegaskan bahwa Lesbumi memiliki peran strategis dalam merawat budaya sekaligus meneguhkan identitas keislaman masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ahlussunnah wal Jama‘ah bukan sekadar ekspresi estetika. Kesenian adalah media dakwah yang mampu menyentuh hati tanpa menggurui, mengajak kebaikan tanpa paksaan,” ujarnya.

Menurut Kiai Widadi, kesenian menjadi jembatan yang menghubungkan nilai lokal dengan ajaran Islam universal. Sastra, musik, dan pertunjukan budaya menjadi medium strategis untuk menyampaikan pesan moral dan kebaikan. Forum seperti ini, menurutnya, mampu menghadirkan harmoni antara iman, ilmu, dan budaya, serta memperkuat persatuan umat.

Ketua Lesbumi PCNU Sumenep, Moh Junaidi, menambahkan bahwa lembaganya ingin menjadi ruang hidup bagi tradisi, tempat di mana nilai keislaman dan budaya lokal bertemu, dirawat, dan diwariskan ke generasi berikutnya.

“Kesenian bekerja tanpa gaduh. Ia masuk lewat rasa, bukan paksaan. Sehingga pesan-pesan keislaman dapat diterima lebih terbuka oleh masyarakat,” kata Junaidi, yang populer dengan nama Maniro.

Diskusi ini menunjukkan bahwa seni bukan sekadar hiburan, tetapi alat strategis untuk merawat peradaban, meneguhkan identitas, dan menyebarkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. Lesbumi Sumenep membuktikan, di tengah derasnya arus modernitas, tradisi dan agama bisa berjalan beriringan, saling memperkuat, dan menciptakan harmoni yang nyata di masyarakat

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Dukung Ketahanan Pangan, SPPG 2 Polres Kediri Plosoklaten Kembangkan Budidaya Lele dan Sayuran
Mari Meriahkan Soekarno Fun Run 2026, Event Swadaya yang Menyatukan Sumenep
Data SDGs 2026 Desa Hebing: Berpijak Fakta, Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran
Tinjau Wilayah Terdampak Gangguan Air PDAM, Mbak Wali Pastikan Penanganan Cepat untuk Warga
Dampak Cuaca Ekstrem, Ratusan Nelayan di Pemalang Tidak Melaut
Menikmati Kopi Tanpa Gula dan Jadah Goreng Hangat Pemecah Kantuk Tol Trans Jawa
Mahasiswa STMIK Tazkia Jalankan Business Coaching dengan Praktik Real-Bisnis dari Nol
Mantan Menparekraf Rekomendasikan E-Book “Yudi The Connector” Sebagai Bacaan Yang Inspiratif

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:51 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, SPPG 2 Polres Kediri Plosoklaten Kembangkan Budidaya Lele dan Sayuran

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:37 WIB

Mari Meriahkan Soekarno Fun Run 2026, Event Swadaya yang Menyatukan Sumenep

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:34 WIB

Data SDGs 2026 Desa Hebing: Berpijak Fakta, Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:52 WIB

Tinjau Wilayah Terdampak Gangguan Air PDAM, Mbak Wali Pastikan Penanganan Cepat untuk Warga

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:51 WIB

Dampak Cuaca Ekstrem, Ratusan Nelayan di Pemalang Tidak Melaut

Berita Terbaru

Fauzi AS saat bersama tim media di Hotel Platinum Surabaya dalam agenda silaturahmi dan diskusi

DETIK ZONE

Penjahat Bernama Prabowo

Jumat, 12 Jun 2026 - 15:54 WIB