Sumenep – Sebuah sekolah tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga membutuhkan sistem agar program tersebut tetap hidup meskipun orang yang menggagasnya suatu saat sudah tidak lagi berada di sekolah tersebut.
Semangat itulah yang kini ditunjukkan Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd. Kepala sekolah yang ikonik dengan blangkonnya tersebut membuat dua buku khusus sebagai bagian dari upaya menata sekaligus memastikan keberlanjutan berbagai inovasi pendidikan karakter yang selama ini dikembangkan di SDN Panaongan III.
Dua buku tersebut masing-masing berjudul “Model Pendidikan Khas SDN Panaongan III Tahun 2026–2030” dan “SOP Program Unggulan SDN Panaongan III.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keduanya bukan sekadar buku administrasi sekolah. Buku pertama menjadi roadmap atau peta jalan pengembangan pendidikan SDN Panaongan III selama empat tahun ke depan, sedangkan buku kedua menjadi petunjuk teknis pelaksanaan berbagai program unggulan yang selama ini telah menjadi bagian dari keseharian warga sekolah.
Yang membuat dua buku tersebut semakin istimewa, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, S.Pd., M.T., memberikan kata pengantar sekaligus membubuhkan tanda tangan pada kedua buku tersebut pada Selasa, 8 September 2026.
Agus Sugianto menjelaskan, buku Model Pendidikan Khas SDN Panaongan III Tahun 2026–2030 disusun untuk memberikan arah yang jelas terhadap perjalanan sekolah pada empat tahun mendatang.
“Buku pertama ini merupakan roadmap pendidikan khas SDN Panaongan III. Di dalamnya kami ingin menggambarkan apa yang hendak dicapai sekolah dalam empat tahun ke depan, khususnya pada periode kedua kepemimpinan saya. Program pendidikan karakter yang selama ini kami jalankan tidak boleh hanya menjadi rutinitas, tetapi harus memiliki arah dan target yang jelas,” ujar Agus.
Menurutnya, berbagai program pembiasaan yang telah berjalan selama ini merupakan bagian dari ikhtiar sekolah untuk membentuk karakter peserta didik melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Sementara buku kedua, SOP Program Unggulan SDN Panaongan III, berisi standar operasional prosedur berbagai program pendidikan karakter yang selama ini telah dilaksanakan secara konsisten.
Di dalamnya antara lain terdapat SASIDA, MALESSAMA, BERTASBIH, JUMPAYASIN, BAYAMA, SEGISAMA, SAPASATE, serta berbagai program unggulan lainnya.
Agus menegaskan, dokumentasi program dalam bentuk SOP menjadi penting agar inovasi sekolah tidak berhenti pada sosok kepala sekolah yang menggagasnya.
“Kalau suatu saat saya mutasi ke sekolah lain, saya ingin program-program yang sudah berjalan di SDN Panaongan III tidak ikut berhenti. Kepala sekolah berikutnya bisa membuka buku ini, mempelajari SOP-nya, kemudian melanjutkan program tersebut. Jadi yang diwariskan bukan hanya programnya, tetapi juga sistem untuk menjalankannya,” jelasnya.
Apresiasi Kepala Dinas Pendidikan Sumenep
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, S.Pd., M.T.
Ia memberikan kata pengantar sekaligus tanda tangan sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan Agus Sugianto. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan adanya kesungguhan dari satuan pendidikan dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan, tetapi juga pada keberlanjutan.
“Saya sangat respek dan mendukung gerakan inovatif yang dilakukan Pak Agus Sugianto. Apa yang dilakukan ini bukan hanya membuat program, tetapi bagaimana program itu didokumentasikan dan memiliki sistem sehingga dapat terus dilaksanakan,” ungkap Moh. Iksan.
Ia menilai, keberadaan buku tersebut dapat menjadi salah satu bentuk penguatan kelembagaan di SDN Panaongan III.
“Kalau sebuah inovasi sudah dituangkan dalam roadmap dan SOP, maka siapa pun yang nanti memimpin sekolah akan memiliki pedoman untuk melanjutkannya. Ini sangat positif karena inovasi tidak berhenti pada orangnya, tetapi bisa menjadi budaya dan sistem sekolah,” lanjutnya.
Moh. Iksan juga berharap berbagai inovasi yang dilakukan SDN Panaongan III dapat memberikan dampak nyata terhadap proses pendidikan.
“Harapan saya, apa yang dilakukan ini dapat menciptakan iklim belajar yang semakin baik di SDN Panaongan III. Ketika iklim belajar dan budaya sekolah semakin baik, tentu kita berharap akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta didik, termasuk capaian standar kelulusan yang mereka raih,” tegasnya.
Bukan Sekadar Dua Buku
Bagi Agus Sugianto, dua buku tersebut mungkin hanya menjadi koleksi terbatas di SDN Panaongan III. Namun, makna yang ingin ditinggalkan jauh lebih besar daripada sekadar jumlah halaman di dalamnya.
Buku pertama berbicara tentang ke mana sekolah akan berjalan, sedangkan buku kedua menjelaskan bagaimana program-program sekolah tersebut dijalankan.
Keduanya menjadi satu kesatuan: visi yang dituangkan dalam roadmap dan langkah pelaksanaannya dituangkan dalam SOP.
Di tengah perubahan kepemimpinan yang bisa terjadi kapan saja, gagasan tersebut menjadi penting. Sebab sekolah tidak boleh kehilangan identitas hanya karena terjadi pergantian kepala sekolah.
Agus Sugianto pun seolah ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan di sekolah bukan hanya tentang menciptakan program sebanyak-banyaknya, tetapi juga tentang memastikan program tersebut dapat terus hidup setelah sang pemimpin pergi.
Jika blangkon selama ini menjadi simbol yang melekat pada sosok Agus Sugianto, maka dua buku tersebut bisa menjadi simbol lain dari jejak kepemimpinannya: sebuah upaya meninggalkan sistem, bukan sekadar meninggalkan kenangan.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala sekolah bukan hanya diukur dari apa yang berhasil dilakukan selama ia memimpin, tetapi juga dari apa yang tetap berjalan setelah ia tidak lagi berada di sana.







