PEMALANG, Detikzone.id – Gapura selamat datang semestinya menjadi simbol keramahan sekaligus cerminan wajah sebuah daerah. Namun, kondisi di pintu masuk Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, justru memunculkan ironi. Tumpukan sampah di bawah gapura menjadi pemandangan yang menyambut warga maupun pendatang yang memasuki wilayah tersebut.
Kondisi itu memunculkan sorotan terhadap kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah di Kabupaten Pemalang. Kawasan yang semestinya memberikan kesan pertama yang baik justru dihadapkan pada persoalan sampah yang terlihat di ruang publik.
Sorotan tersebut disampaikan Indra Bayu (34), warga Kecamatan Taman yang telah bekerja selama 10 tahun di Okinawa, Jepang. Berdasarkan pengalamannya tinggal di Negeri Sakura, ia menilai kebersihan lingkungan di Pemalang masih membutuhkan perhatian serius.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di Okinawa, Jepang, dan kota-kota lainnya di Jepang, tidak ada tumpukan atau ceceran sampah di tempat umum. Ini saya lihat di bawah gapura selamat datang Kota Pemalang. Tumpukan sampah seperti menyambut kedatangan orang yang masuk Kota Pemalang,” ujar Indra, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, kebersihan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas kebersihan. Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya harus berjalan beriringan dengan sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah yang memadai.
Keberadaan sampah di kawasan pintu masuk daerah, lanjutnya, patut menjadi perhatian karena lokasi tersebut dapat membentuk kesan awal bagi masyarakat yang berkunjung maupun melintas di Pemalang.
Drainase Ikut Disorot
Tak hanya persoalan sampah, Indra juga menyoroti kondisi sejumlah saluran drainase di Pemalang yang menurut pengamatannya mengalami penyumbatan dan dipenuhi genangan air bercampur lumpur hitam.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan saluran air di lingkungan tempat tinggal warga Okinawa, Jepang, yang menurut pengalamannya banyak terawat dengan baik.
“Di Okinawa, Jepang, saluran air atau got di depan rumah tidak ada yang mampet seperti di sini. Bahkan, banyak terdapat ikan mas berenang di saluran air atau got di depan rumah warga,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi pembanding sekaligus pengingat bahwa kebersihan lingkungan membutuhkan kedisiplinan masyarakat, pemeliharaan infrastruktur, serta keterlibatan aktif pemerintah daerah.
Pembenahan, menurutnya, perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pengangkutan sampah secara rutin, pengawasan terhadap titik pembuangan liar, pemeliharaan saluran drainase, hingga edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan.
DLH Pemalang Janji Tindak Lanjuti
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pemalang, Drs. Ahmady Stiawan Widatmojo, AP., M.M., saat dikonfirmasi mengenai tumpukan sampah di bawah gapura selamat datang, menyatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Akan segera kita tindak lanjuti tumpukan sampah tersebut,” ujarnya singkat.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian masyarakat yang berharap adanya penanganan nyata di lapangan. Pembersihan lokasi diperlukan agar tumpukan sampah tidak terus menjadi pemandangan bagi warga dan pendatang yang melintas di kawasan tersebut.
Lebih dari sekadar membersihkan satu titik, persoalan ini menjadi pengingat bahwa wajah sebuah daerah juga tercermin dari kebersihan lingkungan dan kepedulian bersama.
Pemerintah daerah, petugas kebersihan, dan masyarakat perlu bersinergi agar pengelolaan sampah berjalan lebih tertib, saluran drainase terpelihara, serta titik-titik rawan pembuangan sampah liar mendapat pengawasan.
Kini, masyarakat menantikan tindak lanjut DLH Kabupaten Pemalang terhadap kondisi di bawah gapura selamat datang tersebut. Harapannya, kawasan itu segera kembali bersih dan tertata sehingga mampu mencerminkan wajah daerah yang layak dibanggakan.
Jangan sampai gapura bertuliskan “Selamat Datang” justru menghadirkan pemandangan yang berlawanan dengan pesan keramahan yang ingin disampaikan.







