SUMENEP – Pulau Sapeken, yang selama ini dielu-elukan sebagai pulau santri nan damai, kini diguncang prahara yang mengguncang nurani. Kepala Desa Sapeken, Joni Junaidi, terseret dalam laporan dugaan penganiayaan yang dilayangkan warganya sendiri, Nadia (21), sosok kontroversial yang akrab dijuluki “Si Tato” karena tubuhnya dipenuhi tinta permanen.
Tuduhan itu langsung ditepis keras oleh Kades Sapeken Joni Junaidi dan menyebut dirinya bukanlah orang gila, melainkan pemimpin desa yang berusaha menjaga marwah norma dan adat yang diwariskan leluhur Sapeken.
“Saya bukan orang gila! Apa untungnya saya melakukan penganiayaan? Saya pemimpin desa, bukan preman pasar. Saya hanya menjaga marwah Sapeken,” tegasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Joni kemudian mengurai kisah yang ia sebut sebagai akar persoalan.
Tahun 2024, ia pertama kali berjumpa Nadia setelah menerima laporan warga mengenai seorang perempuan nyentrik nongkrong larut malam di Pelabuhan Sapeken. Penampilannya dianggap mengusik norma setempat yakni berambut pirang, penuh tato, bercelana mini, tanktop, dan merokok bersama seorang pria.
“Waktu dicek, benar. Ternyata dia Nadia warganya Kadus yang lama merantau ke Bali. Saat ditanya soal ibadah, jawabannya enteng, sudah lupa. Itu yang membuat warga marah, karena dianggap melecehkan agama,” tutur Joni, Rabu (20/8/2025).
Untuk meredam kegaduhan kala itu, Joni membuat surat perjanjian. Nadia wajib berpakaian sopan bila berada di Sapeken. Namun perjanjian tinggal kertas kosong. Beberapa bulan kemudian, ia kembali dengan gaya lama.
Hingga pada Rabu (13/8), pertemuan keduanya di pelabuhan berujung pada letupan emosi.
“Saya tanya baik-baik, kenapa tidak taat perjanjian. Jawabannya sinis, tatapannya melotot sambil makan cilok. Karena merasa diremehkan, saya spontan menepuk pipinya m. Itu pun hanya menyerempet, kena ciloknya. Bukan penganiayaan,” tegas Joni.
Meski demikian, Nadia melapor ke polisi. Kapolsek Sapeken, AKP Taufik, membenarkan laporan itu.
“Benar, ada laporan dengan terlapor saudara Joni Junaidi. Saat ini sedang kami proses.” terangnya.
Namun, bagi Joni, perkara ini jauh melampaui sekadar pasal hukum. Baginya, ini pertarungan nilai antara adat religius Sapeken melawan arus modernitas yang dianggap mengikis moral.
“Ini bukan soal saya benar atau dia yang salah. Ini soal Sapeken. Apakah kita tetap teguh menjaga adat, atau kita biarkan rusak dihantam budaya bebas dari luar?” tandas Joni.
Dukungan moral datang dari KH Ad Dailamy Abuhurairah, tokoh kharismatik setempat. Menurut Joni, sang kiai justru menguatkannya: menjaga Sapeken berarti menjaga marwah agama dan leluhur.
Kasus ini pun menyeret perhatian publik. Bahkan komentar pedas Ketua PKDI Sumenep, H. Ubaid, ikut mewarnai. Namun Joni memilih tenang.
“Beliau mungkin belum tahu kronologinya. Yang jelas, PKDI adalah rumah kita bersama. Kita tetap harus objektif,” pungkasnya, Jumat, 22/08.
Kini, prahara Sapeken tidak lagi sekadar laporan penganiayaan. Ia menjelma menjadi panggung besar pertarungan ideologi antara tradisi yang dijaga ketat, melawan kebebasan individu yang merangsek masuk.
Penulis : Redaksi








