PROBOLINGGO- Di balik ketenangan Balai Desa Alastengah, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, sebuah misi penyelamatan kesehatan skala besar sedang digulirkan. Senin (19/10/2025), alih-alih mengantre untuk urusan administratif, ratusan warga justru berkumpul dengan satu tujuan memastikan paru-paru mereka bersih dari ancaman Tuberkulosis (TBC).
Hari itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo memboyong teknologi mutakhir langsung ke tengah masyarakat. Menggandeng Puskesmas Besuk dan FCSDS STPI, mereka menggelar aksi tracing terintegrasi bertajuk Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Senjatanya tidak main-main: sebuah unit Mobile X-Ray yang dipersenjatai dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 204 warga menjadi sasaran skrining aktif ini. Di dalam ruangan, teknologi AI bekerja cepat membaca hasil rontgen dada warga, memetakan indikasi infeksi paru dalam hitungan menit. Ini bukan sekadar pemeriksaan biasa, melainkan upaya jemput bola untuk mendeteksi TBC secara dini sebelum bakteri Mycobacterium tuberculosis sempat menular lebih luas ke lingkungan keluarga.
Langkah taktis ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah mengejar target ambisius: Eliminasi TBC pada tahun 2030.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr. Nina Kartika, menegaskan bahwa mengandalkan pasien datang ke puskesmas saja tidak lagi cukup. Skrining aktif di lapangan adalah kunci memutus rantai penularan.
“Penemuan kasus TBC secara dini sangat penting agar masyarakat yang terindikasi dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan dan memperoleh pengobatan sesuai standar,” ujar dr. Nina. Karena itu, kami terus mendorong skrining aktif melalui kolaborasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan agar semakin banyak masyarakat yang terjangkau.
Bagi dr. Nina, mendatangkan teknologi AI ke desa barulah separuh perjuangan. Tantangan terbesar sesungguhnya ada pada kesadaran masyarakat dan runtuhnya stigma negatif yang kerap melekat pada penderita TBC.
TBC bisa disembuhkan, namun kuncinya ada pada kepatuhan minum obat secara teratur hingga tuntas. Jika putus di tengah jalan, bakteri justru akan menjadi kebal dan jauh lebih berbahaya.
“Saya mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada TBC serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, risiko penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat dapat ditekan,” jelasnya.
Melalui sinergi kuat antara Dinkes, Puskesmas Besuk, dan FCSDS STPI, aksi di Desa Alastengah ini diharapkan menjadi pemantik bagi desa-desa lain di Probolinggo.
Di akhir penjelasannya, dr. Nina menitipkan pesan menyentuh agar masyarakat berhenti mengucilkan penderita TBC. Sebaliknya, dukungan moral dari tetangga dan keluarga adalah obat paling mujarab yang membantu pasien sembuh total.
“Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan dan mewujudkan Kabupaten Probolinggo yang lebih sehat,” pungkas dr. Nina.







