P21 21 Maret 2025, Kasus Penganiayaan Aktivis di Kejaksaan Sumenep Mandek Tak Jelas

Sabtu, 3 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivis Pulau Masalembu, Jailani, menunggu kepastian kasus penganiayaannya yang sudah P21 sejak 21 Maret 2025, namun hingga kini mandek di Kejaksaan Negeri Sumenep

Aktivis Pulau Masalembu, Jailani, menunggu kepastian kasus penganiayaannya yang sudah P21 sejak 21 Maret 2025, namun hingga kini mandek di Kejaksaan Negeri Sumenep

Sumenep – Berkas perkara sudah lengkap. Tersangka sudah ditetapkan. Tanggalnya jelas: 21 Maret 2025. Namun sejak hari itu, kasus dugaan penganiayaan terhadap aktivis Pulau Masalembu, Jailani, seolah diparkir tanpa tujuan di Kejaksaan Negeri Sumenep. Tidak ada percepatan, tidak ada kejelasan, tidak ada penjelasan terbuka ke publik.

Dalam alur normal, P21 menjadi penanda bahwa perkara siap bergerak ke tahap berikutnya.

Dalam kasus ini, P21 justru berubah menjadi titik mati. Waktu terus berjalan, korban terus menunggu, sementara perkara tetap berada di tempat yang sama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi ini memunculkan persepsi buruk publik, apakah semua perkara yang sudah lengkap akan diperlakukan sama, atau ada perkara tertentu yang boleh dibiarkan menggantung tanpa batas waktu.

Korban dugaan penganiayaan, Jailani menyampaikan bahwa laporan penganiayaan telah ia ajukan sejak 26 September 2024. Ia memilih bersabar, memberi ruang, dan tidak bereaksi berlebihan. Namun kesabaran itu justru berujung pada kevakuman proses.

“Setelah P21, saya kira semuanya akan jelas. Tapi sampai sekarang tidak ada arah. Seolah-olah perkara ini dibiarkan begitu saja,” kata Jailani.

Penganiayaan itu sendiri terjadi pada Selasa sekitar pukul 17.00 WIB, usai turnamen sepak bola di lapangan Desa Sukajeruk, Pulau Masalembu. Saat itu, Jailani melihat cekcok di tengah kerumunan warga. Ia mendekat bukan untuk terlibat, melainkan untuk meredam.

“Saya cuma bilang jangan diladeni dan minta semua orang bubar, termasuk tetangga saya sendiri,” jelasnya.

Namun niat meredam justru dibalas dengan kekerasan. Dari arah utara, AR Alias Mang datang dan menarik bajunya hingga sobek, meninggalkan goresan di tubuhnya. Kejadian tersebut berlangsung di ruang terbuka dan disaksikan warga.

Fakta kejadian terang. Lokasi jelas. Waktu jelas. Saksi ada. Berkas dinyatakan lengkap. Namun kelanjutan perkara justru tak bergerak.
Bagi Jailani, kondisi ini jauh lebih berbahaya dibanding putusan apa pun. Pembiaran menciptakan pesan yang keliru bagi masyarakat.

“Kalau kasus yang sudah P21 saja tanpa kejelasan, maka pesan yang sampai ke publik jelas bahwa proses hukum bisa diperlambat, bisa ditunda, bahkan bisa dibiarkan sampai orang lelah menunggu,” tegasnya.

Ia menilai situasi seperti ini memberi ruang aman bagi kekerasan, terutama ketika pelaku merasa memiliki sandaran kekuatan tertentu.

“Kalau kritik dibalas dengan tangan, lalu perkaranya dibiarkan diam, yang dikalahkan bukan saya. Yang dikalahkan adalah rasa aman masyarakat,” ujarnya.

Jailani juga menegaskan bahwa jika sikap kritisnya dianggap mengganggu, seharusnya dilawan dengan argumen, bukan intimidasi fisik. Kekerasan yang tidak ditindaklanjuti secara tegas hanya akan melahirkan keberanian baru bagi pelaku serupa.

“Kalau berbeda pendapat, lawan dengan data. Kalau hukum berhenti di tengah jalan, itu artinya ada ruang gelap yang dibiarkan terbuka,” ungkapnya.

Hingga kini, meski P21 telah ditetapkan sejak 21 Maret 2025, belum ada penjelasan resmi yang dapat menjawab mengapa perkara ini tak kunjung bergerak.

Bagi korban, kejelasan bukan lagi soal cepat atau lambat, melainkan soal apakah perkara ini akan benar-benar diselesaikan atau dibiarkan mengendap.

“P21 jangan hanya jadi catatan tanggal. Jangan sampai dikenang sebagai hari ketika sebuah perkara diputuskan untuk dibiarkan,” pungkas Jailani.

Sementara itu, salah satu jaksa di Kejaksaan Negeri Sumenep saat dikonfirmasi terkait belum berjalannya tahapan lanjutan perkara dugaan Penganiayaan yang dilakukan AR Alias Mang terhadap Jailani tersebut menyampaikan bahwa pihak kejaksaan masih menunggu tindak lanjut dari penyidik Polsek Masalembu.

“Masih menunggu dari penyidik Polsek Masalembu terkait kapan pelaksanaan tahap dua,” ujar jaksa tersebut singkat.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kapolsek Masalembu saat dikonfirmasi hingga berita ini diterbitkan belum memberikan tanggapan. Pesan dan upaya konfirmasi yang disampaikan media belum mendapat balasan.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Penyelidikan Ibu dan Balita Hilang di Madiun Didesak PH Dipercepat
Tagline “Polisi Bersama Masyarakat” Diuji, Idah Hamida Desak Kejelasan Kasus Rp8,95 Miliar di Polrestabes Makassar
LSM RATU Akan Demo Soal Perizinan Soto Mantenan, Kuasa Hukum Tegaskan Izin Usaha Lengkap dan Taat Pajak
PH Soto Mantenan Buka Suara Terkait Somasi Merek, Perizinan Usaha, hingga Keberatan Pemberitaan
Tertipu Pengacara Gadungan, Wanita asal Jombang Rugi Rp97,5 Juta dan Lapor Polisi
LSM RATU Soroti Legalitas PBG dan SLF Soto Mantenan Kediri, Netizen Merekat Sorotan Merek
Gagal Nyalip, Truk Hantam Pemotor Asal Sumenep Wail Hingga Tewas di Jalur Bojonegoro-Babat
Polsek Kangean Ungkap Dugaan Pencabulan Anak di Arjasa, Pria 43 Tahun Diamankan

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Penyelidikan Ibu dan Balita Hilang di Madiun Didesak PH Dipercepat

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:29 WIB

Tagline “Polisi Bersama Masyarakat” Diuji, Idah Hamida Desak Kejelasan Kasus Rp8,95 Miliar di Polrestabes Makassar

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

LSM RATU Akan Demo Soal Perizinan Soto Mantenan, Kuasa Hukum Tegaskan Izin Usaha Lengkap dan Taat Pajak

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:33 WIB

PH Soto Mantenan Buka Suara Terkait Somasi Merek, Perizinan Usaha, hingga Keberatan Pemberitaan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Tertipu Pengacara Gadungan, Wanita asal Jombang Rugi Rp97,5 Juta dan Lapor Polisi

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:27 WIB

TNI-POLRI

Polisi Ungkap Dugaan Kasus Sabu di Nonggunong Sumenep

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:51 WIB